ITS News

Sabtu, 20 Agustus 2022
14 Desember 2018, 15:12

NACE Coating Inspector Berikan Lima Metode Penghambatan Korosi

Oleh : itsmis | | Source : -

National Association Corrosion Engineers (NACE) Coating Inspector, Larasanto ST saat memberikan materi kuliah tamu di Departemen Teknik Material ITS

Kampus ITS, ITS News – Kerusakan sistem di dunia industri seringkali disebabkan oleh korosi. Namun, korosi sendiri merupakan kerusakan yang tak dapat dihentikan karena terjadi secara alamiah. Larasanto ST, seorang National Association Corrosion Engineers (NACE) Coating Inspector, memberikan lima metode guna menghambat proses korosi kepada peserta kuliah tamu di Departemen Teknik material Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Dalam upaya perlindungan terhadap korosi, pria yang akrab disapa Larasanto ini menyampaikan beberapa metode yang dapat digunakan. Sebab menurutnya, korosi memang tidak dapat dihentikan, namun dapat dihambat. “Nah ada lima metode dasar untuk mengontrol terjadinya korosi,” ujarnya.

Metode pertama, jelas Larasanto, ialah pemilihan material. Metode ini berfokus untuk memilih material yang sesuai dengan lingkungannya. Ia pun menghimbau untuk memilih material yang laju korosinya paling lambat untuk lingkungan tersebut. “Sehingga bukan yang paling mahal,” tegas Larasanto.

Lebih lanjut, ia juga mencanangkan metode pengkondisian lingkungan. Misalnya, pengkondisian dilakukan dengan mengatur tingkat kelembaban suatu ruangan. Dengan metode ini, tambahnya, kita cukup menggunakan material yang sederhana untuk menghambat korosi. “Namun harus didukung dengan pengkondisian di area tersebut,” timpalnya.

Beralih ke metode ketiga, pria kelahiran Jakarta ini menuturkan mengenai metode pemasangan penghalang dalam pengontrolan korosi. Ia menjelaskan, metode ini merupakan metode yang paling umum digunakan masyarakat luas. “Metode ini dibuat dengan memasang penghalang dengan tujuan untuk memutus laju korosi,” tutur alumnus Teknik Material ITS ini.

Selain itu, terdapat metode lain untuk menghalangi laju korosi, yakni perlindungan katodik. Dijelaskan oleh Larasanto, perlindungan katodik bekerja dengan cara menyuplai arus korosi dengan suatu material guna mencegah korosi dari merusak kondisi eksisting. “Korosi itu butuh makanan, makanannya adalah kondisi eksisting. Kebutuhan makanannya ini bisa disuplai dengan menggunakan anoda,” paparnya. Namun, kemampuan perlindungan katodik ini maksimal hanya 20 persen dari permukaan yang dilindungi.

Mengakhiri materinya, Larasanto mencanangkan metode terakhir dalam pengontrolan korosi, yakni corrosion allowance design. Metode ini merupakan keputusan terakhir dalam penghambatan korosi. Dimana Corrosion allowance design bekerja dengan cara mendesain jalannya korosi dengan ukuran dan jangka waktu tertentu. “Karena korosi itu tidak bisa berhenti, hanya bisa dikontrol,” tutupnya. (vi/owi)

Berita Terkait