ITS News

Kamis, 30 Juni 2022
26 November 2018, 15:11

Mahasiswa ITS Bekali Warga Cara Mitigasi Becana Longsor

Oleh : itsmis | | Source : -

Foto bersama Mahagana ITS dengan Himage dan IMGI seusai acara

Kampus ITS, ITS News – Memasuki musim penghujan, sejumlah wilayah di Indonesia rawan terjadi tanah longsor. Rendahnya respon dan pengetahuan warga terhadap bencana memicu timbulnya korban jiwa dan kerugian yang lebih besar. Demi menciptakan masyarakat tanggap bencana, Mahasiswa Penanggulangan Bencana (Mahagana) dan Himpunan Mahasiswa Geomatika (Himage) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan sosialisasi mitigasi bencana di Desa Penanggungan, Mojokerto.

Berdasarkan hasil pengamatan Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNBP), intensitas terjadinya bencana tanah longsor semakin meningkat. Hal ini disebabkan adanya pemanfaatan lahan yang tidak berwawasan lingkungan pada daerah rentan gerakan tanah. “Desa Penanggungan dipilih karena berada di daerah pegunungan dan berpotensi terjadi longsor,” jelas Hilma Wasilah, salah satu anggota Mahagana ITS.

Menurutnya, mitigasi yang dilakukan pada Sabtu (10/11) ini merupakan upaya untuk mengurangi risiko dampak bencana. Kesiapsiagaan masyarakat perlu dibentuk sejak dini karena mereka yang merespon bencana secara langsung. “Pendidikan, pelatihan, dan simulasi menjadi bagian dari upaya pencegahan sebelum memakan korban,” tutur mahasiswi Departemen Teknik Geomatika tersebut.

Lebih lanjut, Hilma menjelaskan tahap awal yang perlu dilakukan dalam mitigasi bencana longsor adalah dengan melakukan pemetaan terhadap daerah–daerah yang memiliki pergerakan tanah yang tinggi. Hal ini sebagai data dasar bagi warga dan pemerintah dalam melakukan pembangunan wilayah agar terhindar dari bencana. “Untuk pemetaan sendiri sedang dilakukan oleh Himage ITS,” tambahnya.

Selain itu, warga juga dibekali dengan teknik peringatan dini dalam mengenal bencana longsor. Ketika terdengar suara gemuruh warga dihimbau untuk segera keluar dari rumah dan mencari tempat lapang. Menurutnya, hal paling mudah untuk mengetahui tanda-tanda akan terjadinya longsor adalah dengan memperhatikan retakan-retakan tanah pada lahan dan jalan. “Biasanya terdapat amblesan pada jalan aspal dan pohon-pohon cenderung miring, dari situ warga perlu waspada,” tuturnya.

Pada dasarnya bencana longsor ini dapat dicegah melalui pendekatan mitigasi struktural dan non-struktural. Mitigasi struktural lebih ditekankan kepada pembangunan atau perubahan lingkungan fisik melalui upaya peningkatan ketahanan kontruksi dan penyediaan infrastruktur pendukung. “Idealnya, zona dengan kerawanan tinggi dan risiko longsor seperti sisi miring lereng harus dicegah dari pembangunan apapun,” ujarnya.

Sementara mitigasi non-struktural lebih kepada modifikasi proses perilaku manusia tanpa membutuhkan penggunaan rancangan struktur. Hal ini dilakukan melalui pendekatan sosial dengan mengembangkan kemampuan masyarakat setempat untuk menghadapi bencana.

Diakhir, Hilma berharap sosialisasi bersama Ikatan Mahasiswa Geodesi Indonesia (IMGI) ini mebuat warga semakin tanggap terhadap bencana longsor dan mengerti cara menghadapinya. Ketika mitigasi dilakukan dengan baik maka jumlah korban jiwa maupun kerugian materi dapat dikurangi. “Warga diajarkan supaya tidak hanya cepat tanggap setelah terjadi bencana, tetapi juga siaga dan mampu bertindak ketika pra dan pasca bencana,” tungkasnya. (bel/mik)

Berita Terkait