ITS News

Minggu, 14 Agustus 2022
16 November 2018, 19:11

Menghidupkan Kembali Sinar Wamena di Tanah Papua

Oleh : itsmis | | Source : -

Para Relawan Ekspedisi Papua Terang 2018 berfoto bersama di depan Kantor Bupati Jayawijaya, Papua

Kampus ITS, ITS News – Keinginan untuk membantu dan berbagi kebahagian kepada saudara setanah air, terkadang memang muncul dengan tiba-tiba. Meskipun tengah dipenuhi dengan kesibukan sebagai mahasiswa, Stella Indranawaski tak perlu berpikir dua kali untuk mengambil kesempatan berharga tersebut. Lewat Ekspedisi Papua Terang 2018 yang diprakarsai oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), mahasiswa Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini mendedikasikan dirinya dalam perjalanan mengalirkan listrik ke tanah Papua.

Dalam upaya tersebut, anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Lingkungan Hidup (PLH) SIKLUS ITS ini tergabung dalam tim 330 ITS Wamena. Ditempatkan di daerah yang begitu indah, menjadi dorongan tersendiri bagi Stella untuk semakin semangat mengabdi.

Rombongan Stella terdiri dari tiga puluh mahasiswa dan relawan dari PLN seluruh Indonesia. Ia bercerita, ketika tiba di Wamena ia mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Selain itu keindahan alam serta kesejukan udara lembah pegunungan Jayawijaya juga jadi sajian pembuka perjalanan para relawan ini.

Stella bersama dengan kedua rekannya sesama mahasiswa ITS, juga relawan dari PLN Kalimantan Tengah dan Wamena memulai perjalanannya dengan bertandang ke Distrik Pelebaga, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Mereka ditemani dua personel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), untuk masuk ke kampung-kampung yang hampir belum tersentuh oleh listrik.

Dari pusat kota Wamena, ucap Stella, perjalanan ditempuh dengan mobil 4X4 yang kemudian disambung dengan jalan kaki. Medan yang ditempuh dengan berjalan kaki pun panjangnya bisa mencapai lima kilometer, dengan jalur yang berbukit, penuh batu licin, serta mesti menerjang arus deras sungai.

Dari perjalanan penuh perjuangan tersebut, Stella kemudian dapat menyimpulkan alasan kenapa permukiman di distrik ini mengalami kesulitan. “Tidak hanya soal listrik, kebutuhan air bersih dan pendidikan menjadi contoh sederhana dari kemalangan warganya,” ungkapnya.

Kehadiran listrik sebenarnya sudah pernah ada dengan adanya sel surya. Namun, lanjut Stella, karena kurang dilakukan perawatan, sekarang banyak honai yang kembali gelap gulita saat malam mulai menyelimuti desa.

Stella menjelaskan, hal itu terjadi dikarenakan sebagian besar warganya hanya merupakan tamatan sekolah dasar, dengan kemampuan baca, tulis dan hitung (calistung) seadanya. “Itu semua menjadikan kepentingan untuk mengelola sel surya yang ada tersisih oleh urusan lain, salah satunya pemenuhan kebutuhan akan air bersih,” tuturnya.

Hingga akhirnya, tim memilih untuk menarik jaringan listrik eksisting yang kemudian disalurkan ke rumah-rumah warga, agar dapat memasukan kembali arus listrik. Melihat begitu susahnya letak dan aksesnya, hal tersebut dirasa paling efektif dan efisien agar warga Pelebaga dapat menikmati listrik di rumahnya.

Setelah selama sembilan hari melakukan survei listrik di Distrik Pelebaga, Tim 330 ITS Wamena melanjutkan misinya ke distrik Walaik. Distrik ini berjarak 18 kilometer dari pusat kota, dan memiliki empat kampung yang belum teraliri arus listrik sama sekali. Padahal jika dibandingkan dengan Distrik Pelebaga, distrik ini memiliki akses yang lebih mudah sebab sudah ada jalan beraspal meski letaknya di atas pegunungan.

Namun setelah dilakukan penjajakan lebih dalam, dikatakan Stella, pengadaan listrik di Distrik Walak akan lebih tepat jika menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Adanya sumber mata air yang deras menjadi alasan mengapa cara tersebut lebih dipilih, dan letaknya yang berada di ketinggian akan lebih mendukung.

Dengan ini, maka sangat diharapkan keindahan potongan surga yang diturunkan Tuhan di tanah Wamena ini nantinya akan selaras dengan kesejahteraan masyarakatnya yang dapat hidup lebih nyaman dengan adanya listrik. Keindahan alam, kearifan budaya, dan nilai kehidupan yang telah tumbuh kembang selama ini pun, semoga akan semakin memancarkan keelokannya setelah listrik mengalir masuk ke setiap pelosok daerahnya. (yok/owi)

Kondisi akses jalan yang dilewati saat berada di Distrik Pelebaga, Kabupaten Jayawijaya, Papua

Berita Terkait