ITS News

Sabtu, 16 November 2019
15 November 2018, 18:11

Mesin Printer Braille, Kado ITS untuk Kota Surabaya

Oleh : itsmis | | Source : -

Mesin Printer Braille ITS yang dihibahkan untuk Pemerintah Kota Surabaya pada perayaan Dies Natalis 58 ITS

Kampus ITS, ITS News – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tak hentinya berinovasi dengan teknologi sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat Indonesia. Tak hanya kebutuhan umum saja, ITS juga memerhatikan kebutuhan para disabilitas. Di perayaan Dies Natalis ITS ke-58 pada Sabtu (10/11) lalu, ITS meluncurkan mesin braille untuk penyandang tunanetra sebagai kado untuk Kota Surabaya.

Mesin braille ITS ialah mesin embosser atau pencetak huruf braille yang merupakan huruf dengan sistem tulisan sentuh. Sistem ini digunakan oleh penyandang tunanetra untuk membaca dan menulis. Mesin ini merupakan prototipe kedua yang diproduksi pada 2017 lalu. “Kalau yang prototipe pertama diproduksi pada 2015 dan telah dihibahkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB) di Jayapura, Pangkalpinang, dan Ambon,” ucap Dr Ir Hendra Kusuma M Eng Sc, salah satu peneliti mesin tersebut.

Beliau menambahkan, rencananya prototipe kedua ini akan dihibahkan ke SLB Jakarta dan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. “Nantinya, mesin tersebut akan diletakkan ke gedung Siola oleh Pemkot Surabaya, sehingga dapat digunakan oleh masyarakat apabila sedang membutuhkan,” tambahnya.

Latar belakang dari pembuatan mesin braille ITS sendiri ialah kerusakan mesin braille di SLB Indonesia karena dimakan oleh usia. Maka dari itu, dibutuhkan mesin braille yang baru untuk membantu masyarakat tunanetra dalam hal baca-tulis. “Mesin yang dulu berasal dari luar negeri, butuh biaya yang banyak untuk membelinya kembali. Sehingga kita harus produksi sendiri,” tutur dosen Departemen Teknik Elektro itu.

Mesin braille buatan Indonesia ini memiliki beberapa keunggulan daripada mesin braille buatan luar negeri sebelumnya, yakni lebih mudah dioperasikan serta hemat energi karena berdaya listrik rendah. Selain itu, mesin ini memiliki kecepatan mencetak yang tinggi dengan kemampuan menghasilkan 400 karakter per detik atau 1200 halaman per jam.

Hendra juga mengatakan, mesin braille ITS ini menggunakan komponen dalam negeri sebanyak 90 persen. Tak hanya itu, mesin ini juga dirancang untuk lebih kompatibel dengan semua komputer. “Jadi mesin braille ITS ini adalah mesin buatan Indonesia pertama kali,” ungkap pria berkacamata ini.

Meskipun begitu, Hendra mengungkapkan bahwa ia bersama tim riset masih terus mengembangkan mesin braille tersebut hingga komponen dalam negeri yang digunakan pada mesin tersebut mencapai 100 persen. “Ini adalah penelitian berkelanjutan yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap luar negeri,” tegasnya. Ia pun berharap, dengan berlanjutnya penelitian ini pihak dalam maupun luar ITS serta kementrian dapat memberi banyak dukungan sehingga mesin yang diharapkan dapat cepat terealisasi. (vi/owi)

Berita Terkait