ITS News

Selasa, 28 September 2021
11 November 2018, 23:11

Tiga Aspek Transformasi Pendidikan Menghadapi Era Disrupsi

Oleh : itsmis | | Source : -

Choirul Tanjung saat memberikan orasi ilmiah pada perayaan Dies Natalis 58 ITS

Kampus ITS, ITS News – Era disrupsi serta faktor perkembangan revolusi industri keempat memberikan tantangan dan peluang tersendiri bagi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Perubahan perilaku pada generasi millenial sekaligus perubahan-perubahan lain yang terjadi secara cepat, massif, dan berdampak besar juga turut mempengaruhi perkembangan di masa depan. Berangkat dari hal tersebut, ITS menghadirkan Prof Dr (HC) drg Chairul Tanjung MBA untuk memberikan orasi ilmiahnya dalam rangka Dies Natalis ITS ke 58, di Grha Sepuluh Nopember pada Sabtu (10/11).

Pada kesempatan ini, ia membawakan orasi ilmiah berjudul Kreativitas, Inovasi, Entrepreneurship, dan Nilai Kepahlawanan Sebagai Motor Penggerak Masa Depan ITS. Ada beberapa ciri yang terjadi dalam tren perkembangan di masa kini. Salah satunya adalah siklus produksi menjadi semakin cepat. Selain itu, nilai valuasi perusahaan berbasis teknologi juga semakin tinggi. Contohnya pada awal 2000, perusahaan General Electric yang berfokus pada pengembangan mesin jet serta alat transportasi menguasai dunia pada waktu itu.

Namun sekarang, lanjut CT, sapaannya, dapat dilihat bahwa perusahaan teknologi digital mampu menguasai ekosistem dan ekonomi dunia. Contohnya yaitu Google, Facebook, Amazon, dan lainnya. Dulu, nilai perusahaan ditentukan oleh fisiknya seperti tanah, bangunan, dan pabrik. Namun sekarang aset yang paling berharga adalah data. “Siapa yang menguasai data, maka dia akan menguasai dunia,” ujarnya.

Pria yang berasal dari Jakarta ini juga menjelaskan, perubahan generasi juga berpengaruh pada perubahan gaya hidup. Generasi millenial saat ini adalah generasi yang bergantung pada dirinya sendiri. Pola hidupnya sangat bergantung pada alat elektronik, dan mau untuk menghabiskan uang yang diterima demi kepuasaan dirinya sendiri. “Namun, mereka mampu berpikir dengan lebih kreatif dan juga lebih mudah dalam kolaborasi sebagai dampak positif yang ditimbulkan,” jelas CT.

Perkembangan tren teknologi di masa kini juga mengakibatkan beberapa permasalahan di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah pola pendidikan yang masih mempersiapkan siswanya untuk menjadi pekerja atau buruh dalam sebuah proses produksi. Selain itu, masalah lapangan kerja yang semakin berkurang. “Sekitar lima juta pekerjaan akan hilang karena otomasi dalam kurun waktu 2015-2020,” tuturnya.

Selain itu, Indonesia juga menghadapi beberapa tantangan yang harus segera diselesaikan agar mampu bersaing kedepannya. Tantangan tersebut yaitu generasi millenials yang memiliki semangat tinggi namun lemah dalam eksekusinya. Investor lokal yang kalah bersaing dengan investor asing, dan masalah kontribusi sektor industri pada produk domestik bruto (PDB) yang semakin menurun.

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, CT menjelaskan, dibutuhkan adanya transformasi pola pendidikan yang menekankan antara tiga aspek yaitu inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship. Potret pendidikan nasional harus dikembangkan secara bertahap mulai dari model Teaching University, Research University, Entrepreneurship University. “Begitulah pola perkembangan evolusi sistem pendidikan di perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan perubahan zaman,” ujar pria yang sudah memulai usaha mandirinya sejak 1981 ini.

Lebih lanjut ia menjelaskan, inovasi merupakan proses penciptaan nilai tambah. Inovasi bisa dihasilkan dari banyak sumber seperti pengetahuan baru, perubahan persepsi, demografi, dan faktor lainnya. Dalam masalah kreativitas, dibutuhkan sebuah imajinasi yang didasari dengan visi yang jelas serta pemikiran yang berbeda dengan orang lainnya. “Dengan kreatifitas, masyarakat akan mudah untuk memahami apa yang kita inginkan. Proses inovasi dan kreativitas bisa menjadi ladang penghasilan dengan adanya sektor entrepreneurship,” tegasnya.

Momen Dies Natalis, sambung CT, juga bertepatan dengan hari pahlawan. Manifestasi semangat kepahlawanan yang Bung Tomo gelorakan itu bisa diambil pelajaran untuk diaplikasikan dalam bidang pendidikan. Yaitu berani membuat perubahan, pantang menyerah dalam berinovasi dan berkreatifitas, dan yang terakhir yaitu rela berkorban mendorong entrepreneurship. “Harapannya ITS bisa menjadi motor penggerak masa depan,” tutur Founder dari CT Corp ini.

Menurutnya, ITS juga harus mampu menerapkan sistem pendidikan yang berbasis inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship yang dilandasi dengan semangat kepahlawanan agar bisa bertahan menghadapi tren perubahan teknologi kedepan. “Untuk itu, dibutuhkan komitmen dari seluruh sivitas akademika ITS sehingga dihasilkan SDM unggul dan berdaya saing tinggi,” pungkasnya. (lut/owi)

Berita Terkait