ITS News

Minggu, 12 Juli 2020
10 November 2018, 02:11

Alumnus ITS Raih Leibinger Innovation Prize 2018

Oleh : itsmis | | Source : -

Muhammad Rodlin Billah ST, alumnus ITS yang sedang menempuh studi doktoral di Karlsruhe Institute of Technology (KIT) Jerman, meraih penghargaan bergengsi Leibinger Innovation Prize 2018.

Surabaya, ITS News – Muhammad Rodlin Billah ST, alumnus Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berhasil mendapatkan penghargaan terbaik kedua Leibinger Innovation Prize berkat mengusung inovasi teknik Photonic Wire Bonding (PWB). Penghargaan tersebut diberikan kepada kelompok penelitian dari seluruh dunia yang dianggap memberikan kontribusi signifikan terhadap bidang laser dan aplikasinya.

Teknik PWB adalah teknik standar pengembangan serat optik di dunia industri untuk mengintegrasikan komponen optika-fotonika dan diproduksi masal dengan biaya murah melalui polimerisasi dua foton (partikel dasar). Seperti yang diketahui, serat optik merupakan media transmisi atau semacam kabel dari plastik atau kaca yang digunakan untuk mentransfer sinyal cahaya dari satu tempat ke tempat lain.

Pria yang sedang menempuh studi doktor di Karlsruhe Institute of Technology (KIT) Jerman itu mengungkapkan di tahun 2020 akan terjadi fenomena capacity crunch yakni fenomena melonjaknya lalu lintas data melebihi pertumbuhan infratstruktur kabel atau ketidakcukupan untuk memenuhi permintaan masyarakat dunia akan akses pertukaran informasi digital yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

PWB hadir sebagai salah satu teknik integrasi fotonika yang menjanjikan sebagai pengangkutan data alternatif, khususnya dalam hal skalabilitas untuk produksi massal dan efisiensi biaya produksi. Hal ini karena teknik integrasi polimerisasi dua foton lebih sederhana dibanding dengan teknik lain yang sebelumnya. “Oleh karena hal inilah, PWB dianggap sebagai terobosan besar”, ujar ayah satu orang anak ini.

Jika ditinjau dari kacamata industri, perusahaan penyedia layanan penyimpanan data melalui internet seperti Google, Microsoft, bahkan Facebook akan dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan datanya dengan harga yang lebih murah.

Sedangkan dari kaca mata masyarakat, berbagai layanan internet dan aplikasi seperti streaming video dari YouTube atau video call dengan WhatsApp akan dapat diakses dengan lebih cepat dan murah sehingga bisa merealisasikan Internet of Things pada Revolusi Industri 4.0.

Pria yang tinggal di Jerman sejak tahun 2010 ini berharap bila inovasinya ini bisa memperlihatkan pentingnya sistem komunikasi serat optik untuk dunia komunikasi di masa kini dan masa depan. Hal ini seyogyanya tidak hanya dengan membangun berbagai pusat data jaringan serat optik sebagaimana yang telah diusahakan oleh pemerintah, namun juga diikuti oleh berbagai perguruan tinggi dengan memunculkan program studi vokasi, S2, hingga S3 dalam bidang optika dan fotonika, khususnya untuk pengembangan serat optik.

Kemungkinan Inovasi PWB Dikembangkan di Indonesia
Pria lulusan ITS tahun 2009 ini mengungkapkan teknik PWB memiliki potensi jauh lebih murah biayanya dibandingkan teknik integrasi fotonika lainnya. Namun demikian, penyediaan peralatan dan bahan dasar polimeriasasi dua foton masih juga sangat mahal bila PWB dilihat sebagai sebuah bidang penelitian tersendiri, khususnya di Indonesia. “Sebagai contoh, sebuah laser femtosecond, satu dari sekian banyak komponen penting untuk TPP, sudah menghabiskan biaya sekitar Rp 700 juta”, ujarnya.

Biaya tersebut belum termasuk instalasi ruang laboratorium khusus dan peralatan lainnya untuk mengakomordasi teknik polimerisasi dua foton. “Secara khusus, pengembangan teknik PWB di Indonesia masih memungkinkan meskipun pada gilirannya akan menghadapi tantangan besar dari sudut pandang ini,” pungkasnya. (rio/gol)

Berita Terkait