ITS News

Sabtu, 19 September 2020
08 Oktober 2018, 19:10

Limbah Rumen Pacu Pembentukan Biosurfaktan pada Remediasi Tanah Tercemar di Tambang Minyak

Oleh : itsmis | | Source : -

Kondisi pertambangan minyak bumi rakyat di Desa Wonocolo, Bojonegoro, Jawa Timur

Kampus ITS, ITS News – Setiap hari pasti ada sapi yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Kegiatan pemotongan hewan di RPH menghasilkan limbah rumen yang belum dimanfaatkan. Salah satu profesor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil memanfaatkan limbah rumen dari RPH untuk remediasi tanah pertambangan minyak, agar bebas dari polutan minyak yang termasuk kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Hampir semua kota memiliki RPH. Limbah RPH yang sebagian besar berupa rumen, atau isi perut hewan, pada umumnya langsung dibuang ke TPA. Hal tersebut menjadi latar belakang penelitian oleh Prof. Dr. Yulinah Trihadiningrum, MappSc, beserta beberapa mahasiswa S1, S2, dan S3.

Profesor perempuan tersebut menjelaskan bahwa rumen sapi memiliki kandungan bakteri yang cukup tinggi. Selain itu kandungan nutriennya, terutama fosfor (P) dan nitrogen (N), terdapat pada kadar cukup tinggi. Tim peneliti mendapatkan bahwa penggabungan limbah rumen sapi dengan sampah kebun mampu menurunkan kadar polutan minyak pada tanah tercemar dengan efektif melalui proses komposting.

Aktifitas bakteri selama proses komposting mampu membentuk biosurfaktan yang dapat mempercepat penguraian polutan minyak. Biosurfaktan yang berperan seperti “detergen” alami mampu mengemulsifikasi polutan minyak yang terdapat pada partikel tanah, sehingga menjadi lebih mudah diuraikan oleh mikroorganisme.

Asisten laboratorium yang dikepalai Prof Yulinah ketika melakukan komposting tanah tercemar crude oil di laboratorium Departemen Teknik Lingkungan ITS

Sebagai senyawa alami, biosurfaktan tidak berbahaya bagi lingkungan hidup. Selain itu proses pembentukannya selama proses komposting menjadikan bioremediasi tanah tercemar minyak tidak memerlukan penambahan surfaktan komersial untuk mempercepat pemulihan kualitas tanah.

Surfaktan komersial ada yang bersifat beracun bagi mikroorganisme, sehingga penggunaannya justru dapat mengganggu proses penguraian polutan minyak. Pengadaannyapun dapat memperbesar biaya operasi proses bioremediasi.

Dalam penelitiannya, tim menggunakan sampel tanah tercemar dari pertambangan minyak rakyat yang terletak di Desa Wonocolo, Bojonegoro. Kandungan pencemar minyak bumi dalam tanah di kawasan tambang tersebut hingga 10 kali lipat dari baku mutu yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup nomor 128 tahun 2003 tentang Tata-cara dan Persyaratan Teknik Pengolahan Limbah Minyak Bumi dan Tanah Terkontaminasi Minyak Bumi Secara Biologis.

Dosen asal Kota Bogor itu menyampaikan bahwa hasil risetnya dapat diterapkan di lapangan. Namun diperlukan kondisi lingkungan yang mendukung, mengingat mekanismenya melibatkan aktofitas mikroorganisme, yang membutuhkan kontrol kelembaban, pH, aerasi, dan suhu pada kondisi optimum. “Jadi diperlukan prasarana yang memadai untuk menerapkan metode bioteknologi ini,” ujar profesor dari Departemen Teknik Lingkungan itu. (ion21/owi/Humas ITS)

Pengujian kemampuan biosurfaktan dari bakteri pada crude oil dari tanah terkontaminasi

Berita Terkait