ITS Media Center

Senin, 24 September 2018
12 Juli 2018, 09:07:59

Bahas Pengembangan Informasi Geospasial melalui GeoIcon ITS

Oleh : itsmis | | Source : -

Rektor ITS Prof Joni Hermana mengamati pesawat drone dari perusahaan Jepang yang mampu memetakan wilayah 40 hektare dalam waktu 15 menit di GeoIcon.

Surabaya, ITS News – Menanggapi pentingnya informasi geografis untuk pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia, Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar Geomatics International Conference (GeoIcon) di Hotel Swiss Belinn-Manyar, Kamis (12/7). Dengan mendatangkan Ketua Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia, Prof Dr Ir Hasanuddin Zainal Abidin MSc dan CEO Magellan System Japan Inc, Nobuhiro Kishimoto, konferensi ini membahas pengembangan informasi geospasial yang lebih akurat.

Dalam gelaran yang dibuka oleh Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD tersebut, Hasanuddin Zainal Abidin yang biasa disapa Hasan ini menerangkan, informasi geospasial ini penting adanya. “Geospasial sendiri merupakan informasi yang menunjukkan posisi suatu objek yang berada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi dengan mengacu pada suatu sistem koordinat,” terangnya.

Ia mengatakan, dengan informasi berupa data spasial yang cukup memadai, kekayaan sumber daya alam yang ada di Indonesia tentu akan dapat dimanfaatkan dengan baik. “Sayangnya, informasi geospasial yang selama ini tersedia di Indonesia tidak begitu detail,” ujar mantan Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB ini.

Ketua Badan Informasi Geospasial (BIG) Indonesia Prof Dr Ir Hasanuddin Zainal Abidin MSc menyampaikan materinya.

Pria berkacamata ini menjelaskan, mayoritas data geospasial yang ada di Indonesia masih berada dalam skala 1 : 50.000. Data ini ia nilai kurang akurat, mengingat kebutuhan data spasial yang dibutuhkan sebuah instansi atau lembaga berada dalam skala 1 : 5.000. Dengan tuntutan akurasi tersebut, dibutuhkan banyak sumber daya manusia yang nantinya akan terlibat. “Indonesia ini negara yang sangat luas, butuh banyak surveyor untuk membuat data geospasial yang terperinci,” ungkap pria lulusan University of New Brunswick, Kanada ini.

Ia mengklaim apabila ketidakakuratan data yang ada dapat menimbulkan konflik sosial. ”Untuk itu, BIG telah mencanangkan Kebijakan Satu Peta Nasional (One Map Policy) demi menghindari masalah yang kemungkinan dapat terjadi,” lanjut alumnus Teknik Geodesi ITB ini.

Mendukung kebijakan tersebut, GeoIcon juga mengundang CEO sebuah perusahaan penyedia data spasial dari Jepang, Nobuhiro Kishimoto. Perusahaan berbasis riset ini menggunakan teknologi yang cukup canggih sehingga mampu menyediakan data dengan akurasi tinggi. Ia mengklaim, dengan teknologi tersebut, penyelesaian One Map Policy yang diwacanakan pemerintah Indonesia mampu diselesaikan dengan lebih cepat lagi.

“Kami memiliki satelit yang cukup sensitif juga perangkat lunak semacam GPS (global positioning system) dengan akurasi yang cukup,” ujarnya. Dengan menggunakan drone untuk pengambilan gambar, lanjutnya, sehingga data yang didapat cukup jelas. Nobuhiro juga mengatakan, pihaknya akan dengan senang hati berbagi apabila Indonesia membutuhkan bantuan untuk data spasial ini.

CEO Magellan System Japan Inc, Nobuhiro Kishimoto menjelaskan inovasi perusahaannya.

Sementara itu, Kepala Departemen Teknik Geomatika ITS, Muhammad Nur Cahyadi ST MSc PhD mengatakan, GeoIcon merupakan tempat berbagi pengetahuan bagi mahasiswa Teknik Geomatika ITS dengan pemangku kebijakan di bidang ini. Ia menuturkan, mengingat urgensitas dari pengadaan data geospasial, acara ini pun mengangkat tema Geospasial Technology for Mapping The Future: Human Resource Development.

Nur menjelaskan, konferensi ini dihadiri oleh peserta dari dalam maupun luar negeri. Antara lain Badan Perencanaan Pembangungan Kota (Bappeko), instansi militer dan institusi terkait turut ambil bagian dalam konferensi bertaraf internasional tersebut. “Peserta luar seperti dari Malaysia, Thailand dan lain-lain juga hadir untuk tahun ini, peserta paling jauh berasal dari Rusia dan Polandia,” pungkas pria murah senyum ini. (nov/Humas ITS)

Rektor ITS Prof Joni Hermana mencoba simulasi Pemodelan 3D Topografi yang dipamerkan.

Berita Terkait