ITS Media Center

Sabtu, 15 Desember 2018
17 April 2018, 06:04:05

Tanggapi Bencana Alam Lewat Perpaduan Ilmu Arsitektur dan Psikologi

Oleh : itsmis | | Source : -

Muhammad Irfan Al Mujaddidi, Widya Wahyuning Permata, dan Falahy Mohammad, Mahasiswa Arsitektur ITS mendapatkan juara di Wiswakharman Expo 2018 di UGM.

Kampus ITS, ITS News – Terletak di posisi geografis strategis, turut membawa dampak negatif bagi Indonesia. Salah satunya adalah frekuensi terjadinya bencana alam yang sering terjadi. Hal inilah yang melatarbelakangi ide tiga mahasiswa Departemen Arsitektur ITS untuk menciptakan desain urban disaster learning center atau pusat edukasi seputar bencana alam.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Muhammad Irfan Al Mujaddidi, Widya Wahyuning Permata, dan Falahy Mohammad. Dalam proses desainnya, ketiga mahasiswa tersebut memilih Taman Kalijodo, Jakarta sebagai lokasi. Hal ini lantaran Taman Kalijodo terletak di antara empat titik rawan banjir yang ada di Jakarta, sehingga menyebabkan daerah tersebut rawan terkena bencana alam tahunan, yaitu banjir.

Alasan lainnya adalah karena Taman Kalijodo tersebut merupakan bekas area prostitusi yang kini dirombak menjadi ruang publik, RTH (Ruang Terbuka Hijau), dan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). Taman ini menjadi tempat berkumpul masyarakat dari kampung sekitar. “Karena areanya strategis dan vital, maka cocok didirikan bangunan dengan fungsi edukasi,” ungkap Widya.

Dalam merancang, ketiga mahasiswa angkatan 2014 tersebut memadukan ilmu arsitektur dan psikologi. Pasalnya, mereka menggunakan konsep katarsis dalam desainnya. Konsep katarsis sendiri merupakan bagian ilmu psikologi berupa proses meredakan atau melepaskan emosi manusia melalui media tertentu.

“Dalam hal ini kami menggunakan arsitektur kami sebagai media masyarakat sekitar untuk melepaskan emosi tentang banjir,” ujar Muhammad Irfan Al Mujaddidi yang akrab disapa Jadid. Media pelepas emosi tersebut berupa instalasi, foto, video, serta fasilitas lain di dalam bangunan yang mereka desain.

Jadid menjelaskan jika pelepasan emosi yang mereka bawa di dalam konsep ini berhubungan dengan tingkat kesadaran ataupun naluri masyarakat mengenai bencana alam.

Selepas melakukan observasi dan analisis, terciptalah desain urban disaster learning center yang memiliki enam lantai. Di lantai pertama hingga ketiga, mereka memfokuskan pada penyatuan emosi pengunjung tentang sebab dan akibat banjir di Jakarta. Pada lantai selanjutnya yakni lantai empat dan lima difokuskan pada edukasi seputar banjir.

Sedangkan lantai enam terdapat rooftop dan taman yang menjadi media pelepasan emosi pengunjung. “Medianya berupa instalasi, foto dan karya lain yang dirancang sendiri oleh pengunjung,” terang Jadid.

Jadid mengungkapkan rancangan bentuk fisik bangunan yang mereka buat terinspirasi dari kehancuran yang terjadi akibat bencana. Contohnya adalah bangunan yang miring, roboh, serta pohon yang ditebang. “Visual dari bangunan kita terlihat seperti bangunan yang rusak, sama seperti konsep yang kita bawa,” ujarnya.

Falahy Mohammad yang juga anggota tim mengungkapkan, kesulitan yang dihadapi dalam merancang desain bangunan ini ialah ketika proses brainstorming. “Sulit menggabungkan pemikiran tiga orang dalam satu konsep. Apalagi konsep program ruang yang dicanangkan harus bisa dalam lahan 7 x 7 meter,” jelasnya.

Hasil penggabungan ilmu arsitektur dan pskilogi tersebut akhirnya berbuah manis. Falahy dan rekannya mendapat juara dua dalam Wiswakharman Expo (WEX) di UGM pada maret lalu. Ketepatan konteks serta konten yang diusung juga menjadi ciri unik tim ini dibanding tim lain.

Dengan mengangkat isu ini, Falahy dan tim mengharapkan masyarakat bisa lebih teredukasi tentang potensi bencana di Indonesia serta dapat berpartisipasi aktif dalam semua fase penanggulangan bencana. “Tidak hanya masyarakat, namun semoga pemerintah memiliki upaya serupa,” pungkas Falahy. (wim/jel)

Berita Terkait