ITS Media Center

Senin, 19 Februari 2018
08 Februari 2018, 08:02:28

Sulap Limbah Jadi Beton Berkualitas Tinggi

Oleh : gol | Source : -

Tim Senanjaya 79 yang terdiri dari Reza (kiri), Andini, dan Jonathan

Kampus ITS, ITS News-Dalam Kompetisi Rancang Bangun (KRB) 2018 yang diselenggarakan di Universitas Udayana Bali pada Jum’at (2/2), tim Senanjaya 79 Departemen Teknik Sipil ITS berjaya menyabet juara pertama. Mengusung tema High Early Strength and Low Cost Concrete Competition, kompetisi ini menantang  pesertanya membuat beton bermutu tinggi dengan biaya terbatas.

Tim yang digawangi oleh Andini Dwi Agustin, Jonathan Febryan, dan Reza Syihabul Millah S ini membuat  inovasi beton dengan sisa pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (Fly ash). Beton tersebut kemudian diberi nama Beton As Crete (Alumn and Sugar Conctete).

Menurut Reza, bahan tersebut dipilih karena memiliki kandungan silika yang cukup tinggi. Selain itu Fly ash ini merupakan sisa pembakaran batu bara yang jika dibiarkan akan mengancam kesehatan lingkungan. Hal ini menyebabkan banyak industri beralih menggunakan fly ash sebagai pengganti semen dalam campuran beton untuk  membantu mengurangi degradasi lingkungan.

Menurut Reza hal yang paling penting untuk meyakinkan juri adalah harus memiliki pendapat dan gagasan yang kuat, tentunya dengan didukung jurnal yang tepat. Gagasan tersebut kemudian harus diikuti dengan kualitas nyata dari Inovasi yang diusulkan.

Ia mengatakan, inovasi beton yang mereka usulkan mampu melebihi kekuatan beton konvensional. “Kekuatan beton biasa dalam 28 hari pengerjaan paling besar mencapai 60 Mega Pascal. Sedangkan inovasi yang diberikan oleh tim kami mampu mencapai angka 62,3 Mega Pascal hanya dalam waktu tujuh hari,” tutur Reza.

Meski demikian, tim yang dibimbing oleh Faimun MSc PhD awalnya sempat mengalami kesulitan dalam mencari material. Pasalnya limbah fly ash yang mereka gunakan merupakan bahan berbahaya dan beracun atau yang biasa dikenal sebagai limbah B3, sehingga membutuhkan surat pengantar khusus untuk memperolehnya.

Selain masalah material, Reza mengaku sempat gagal berkali-kali dalam melakukan percobaan. Terutama dan hal mencari material, proporsi dan desain yang tepat. “Pernah empat sampai enam kali bereksperimen di Laboratorium Beton dan Bangunan tanpa hasil yang memuaskan,” ungkapnya.

Manusia boleh berusaha sekeras yang mereka inginkan, namun setinggi-tingginya usaha langit adalah batasnya. “Karena seberapa besarpun usaha manusia jika tidak disertai dengan doa akan sia-sia,” pungkasnya. (Bel/Jun/Qi)

Berita Terkait