ITS Media Center

Minggu, 19 November 2017
11 November 2017, 04:11:12

Tantangan Cendekiawan Masa Depan

Oleh : gol | Source : -

Kampus ITS, ITS News –  Lebih dari setengah abad Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengabdi pada pendidikan nasional. Dari tempaan kampus perjuangan, tak terhitung banyaknya cendekiawan bangsa yang lahir dan berkontribusi kepada bangsa. Salah satunya ialah Prof Ir Widi Agoes Pratikto MSc PhD yang telah berkiprah di dunia maritim internasional. Menyandang gelar sebagai kaum intelektual, Widi mengimbau agar cendekiawan ITS menjadikan kejujuran sebagai pondasi kehidupan.

Begitulah pesan yang disampaikan Prof Ir Widi Agoes Pratikto MSc PhD, Guru Besar Departemen Teknik Kelautan ITS. Dihubungi melalui konferensi video, pria yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) ini memaparkan saat ini semakin banyak kaum intelektual yang mengesampingkan kejujuran.

 “Perilaku jujur itu terlihat sepele, saking sepelenya sering dikesampingkan,” celetuk pria yang akrab disapa Widi tersebut.

Menurut Alumnus Teknik Perkapalan ITS ini banyaknya alumni perguruan tinggi yang menjadi pelaku tindak pidana korupsi adalah salah satu bukti bahwa kaum intelektual tidak bertanggung jawab atas ilmu yang mereka miliki.

“Negara akan menjadi besar jika cendekiawan berperan dan berkontribusi menopang negara, salah satunya dengan mendidik dan mengajarkan soal kebenaran,” tambah Sekretaris Jendral Kementrian Kelautan dan Perikanan RI periode 2006-2009 ini.

Mahasiswa Teladan ITS tahun 1977 ini berpendapat bahwa kampus adalah wahana untuk menyemaikan kejujuran. “Kampus harus ideal dan mengedepankan kebenaran. Sebagai institusi pendidikan, ITS tidak boleh diam melihat berbagai kemungkaran yang terus terjadi di bangsa ini,” tegasnya.

Pria berkacamata ini melanjutkan, kaum intelektual juga harus memiliki tujuan hidup yang jelas. Menurutnya, berilmu saja tidaklah cukup untuk menjadi bekal kehidupan. “Tujuan hidup yang baik seyogyanya menempatkan kejujuran sebagai hal yang utama, oleh karenanya cendekiawan harus berkata sesuai dengan apa yang ia yakini dan pelajari,” imbuhnya sembari tersenyum.

Selain itu, Peraih Doktor Honoris Causa Universitas Terengganu Malaysia ini beranggapan kaum intelektual juga tidak boleh serampangan, “Ketika lulus dari kampus perjuangan, para intelektual muda ini harus paham betul atas ilmu yang mereka pelajari dan tujuan hidup yang mereka yakini,” tutur doktor jebolan North Carolina State University Ameria Serikat tersebut.

Untuk itu, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pengembangan Pendidikan Tinggi Kementrian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi membeberkan tugas rumah ITS dalam mewujudkan hal tersebut. “ITS memiliki tugas besar untuk menciptakan lingkungan yang membuat mahasiswanya terus haus akan ilmu pengetauhan dan berpikiran kedepan,” ucap Sekretaris Jendral Developing 8 Countries (D-8) periode 2010-2012 itu.

Profesor yang telah mengawali karir profesionalnya di ITS sejak tahun 1979 ini meyakini secara fasilitas fisik ITS telah mumpuni. Malah, ia menyarankan ITS untuk tidak terlalu banyak berinvestasi pada sektor fisik “Di usia 57 tahun ini, seharusnya ITS mulai untuk lebih berkonsentrasi pada sumber daya manusia, penciptaan lingkungan yang baik serta budaya yang positif,” jelas penulis dengan sembilan buku tersebut.

Misalnya, dengan menambah frekuensi dosen tamu dari luar negeri. Penyandang gelar guru besar sejak usia 46 tahun ini beranggapan dengan semakin seringnya mahasiswa mendapatkan kuliah dari dosen luar negeri, pikiran mereka akan semakin terbuka dan muncul kekhawatiran melihat persaingan yang ada. “Kekhawatiran adalah ciri orang maju, belajar dari buku atau mendengar materi yang diulang dosen setiap tahunnya tidaklah cukup membuat mahasiswa ITS berpikiran luas dan terbuka,” ungkap pria kelahiran Surakarta tersebut.

Widi melanjutkan, ITS juga harus meningkatkan jumlah kelas bersama lintas departemen. Sebab berdasarkan pengalamannya, interaksi antar disiplin ilmu akan memunculkan sifat bijaksana pada diri intelek. “Mahasiswa akan sadar betapa kompleksnya masalah dan mengerti bahwa disiplin ilmunya saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah tersebut,” urai pria 64 tahun ini.

Selain itu, Widi menekankan laboratorium di ITS harus menjadi istana ilmu bagi mahasiswanya. “Calon intelektual muda harus bersemangat mengeksplorasi ilmu pengetauhan melalui laboratorium, terlebih apabila laboratoriumnya dapat terintregasi satu sama lain, ” paparnya.

Sebab, di masa yang akan datang tantangan yang dihadapi kaum intelektual saat ini jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memprediksi penduduk dunia akan meningkat dari 7,2 miliar hari ini menjadi 8,1 miliar di tahun 2025 dan mencapai angka  9,6 miliar ditahun 2050.

“Ledakan populasi penduduk dunia ini memberikan tiga tantangan besar bagi cendekiawan terkait ketahanan pangan, energi dan ketersediaan air bersih,” ulas profesor yang hobi menulis ini.

Widi berharap, di masa depan tantangan ini dapat dijawab dengan baik oleh ITS dan kaum intelektual, oleh karenanya ayah tiga orang anak ini berpesan diusia ke 57 tahun ini ITS harus makin serius menggodok mahasiswanya demi menciptakan kaum intelektual yang berwawasan dan berkepribadian luhur.

“Jika idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki mahasiswa, maka kejujuran dan haus akan ilmu pengetauhan adalah modal bagi kaum intelektual muda,” tandasnya. (lys/hil)

Berita Terkait