ITS News

Rabu, 14 Januari 2026
15 Desember 2016, 08:12

SENTA 2016 Bahas Tantangan Dunia Maritim

Oleh : Dadang ITS | | Source : -
"Lulusan teknologi maritim harus berani ambil risiko di Indonesia Timur" tukas Daniel, Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK), memulai sambutannya dalam SENTA 2016. Seminar yang di helat di ruang seminar BG Munaf itu menarik perhatian para ahli kelautan nasional dan internasional. 
Daniel mengatakan Indonesia saat ini belum mempunyai otoritas maritim yang kuat. Padahal, sebagai negara kepulauan yang sebagian besar wilayah adalah perairan, Indonesia sepantasnya memiliki keinginan kuat mengutamakan visi poros maritim. 
Menurut Daniel, di satu sisi terdapat kesalahan pola pikir  masyarakat yang memusatkan produksi di daerah barat. "Daerah timur yang kaya akan sumber daya alam, malah jauh ditinggalkan," ujarnya. 
Menjawab permasalahan ini, Daniel menantang mahasiswa lulusan pendidikan kemaritiman agar berani melirik daerah Indonesia timur. Lulusan akademisi terutama bidang kemaritiman berpotensi mengembangkan infrastruktur maritim yang berpotensi menekan kesenjangan pembangunan di Indonesia Timur. 
Di sisi lain, orang timur juga acap kali menolak kehadiran orang asing di daerah mereka. Padahal, niat awal para lulusan itu adalah membangun peradaban maritim yang lebih maju. Meski demikian, Dosen kelahiran Klaten ini melihat masalah tersebut sebagai peluang baru yang prospektif menghadapi ketatnya persaingan dunia kerja. 
Lebih kompleks lagi, selain menyebutkan permasalahan lokal, lulusan University of  Newcastle Upon Tyne  itu turut mengungkap persaingan maritim tingkat internasional. Selain Indonesia, terdapat pula beberapa negara asing yang mempunyai keinginan besar menjadi poros maritim dunia. Salah satunya adalah Cina. 
Negeri tirai bambu itu terkenal kekeuh menggencarkan program jalur sutra maritim. Tahun 2015, Cina mengalokasikan 0,2 Triliun Dolar Amerika untuk ketahanan di sektor maritim. Angka dramatis juga disusul Amerika yang menggelontorkan  0,6 Trilyun Dolar Amerika untuk pemanfaatan sektor maritim
Indonesia sendiri, ujar Daniel, baru berani mengalokasikan 0,01 Trilyun Dolar Amerika. Angka tersebut merupakan 0,9 Produk Domesti Bruto Indonesia.  "Perbedaan yang kontras ini menyimpulkan ambisi Indonesia masih jauh tertinggal," pungkasnya. (efa/ven)

Berita Terkait