"Nilai tersebut merupakan nilai tertinggi sepanjang sejarah penilaian AUN-QA terhadap jurusan-jurusan di ITS," ujar Istiar ST MT, Sekretaris Program Studi Sarjana Departemen Teknik Sipil ITS.
Tidak puas dengan pengakuan di tingkat regional Asia Tenggara, Teknik Sipil menargetkan Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) di tahun 2018.
Tim besutan Amerika Serikat tersebut telah memberikan akreditasi kepada 3600 departemen di tujuh ratus universitas yang tersebar di 29 negara. "Cakupan akreditasi yang ini (red, ABET) memang lebih luas," ungkap Tri joko Wahyu Adi, ST MT Ph D, Ketua Jurusan Teknik Sipil ITS.
Oleh karenanya, berbagai persiapan akan segera dilaksanakan seperti pengenalan smart class room, berbagai fasilitas untuk mahasiswa asing, dan lain sebagainya.
"Untuk smart class room, salah satu contohnya yaitu adanya fasilitas pendukung seperti ruang teleconference," ungkap Tri. Begitu juga fasilitas yang berkaitan dengan mahasiswa asing.
Menurutnya, fasilitas untuk mahasiswa asing harus dilengkapi guna menarik lebih benyak peminat Teknik Sipil ITS secara International. "Saat ini, kami sudah kedatangan mahasiswa asing dari Belanda, Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia," ujar Tri saat mengisi materi di kuliah tamu di Teknik Sipil, Sabtu (19/11).
Terlepas dari berbagai fasilitas yang diperkenalkan pada tahun ini, Tri mengungkapkan bahwa kado terbesar bagi Teknik Sipil yaitu pembuatan road map mengenai rencana yang akan dilakukan Teknik Sipil ITS dari tahun ke-60 hingga hingga kini. "Saya memiliki impian, saat Teknik Sipil berumur seratus tahun nanti, ITS sudah merupakan universitas kelas dunia," ujarnya tersenyum. (io11/oti)