ITS News

Senin, 19 Agustus 2019
23 September 2016, 17:09

Terus Meneliti, Dosen ITS Raih Penghargaan Dunia

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Tak hanya mahasiswa yang beramai-ramai megharumkan nama ITS, dosen pun tak mau kalah. Kini giliran Jurusan Fisika ITS yang unjuk kebolehan. Hampir 30 tahun meneliti, Darminto beberapa kali berhasil meneliti material maju dari bahan alam. Tak hanya di Indonesia, penelitiannya pun dibawa terbang ke Negeri Sakura.

"Ada banyak, tapi yang paling saya suka adalah grafena yang berhasil kami teliti dari limbah batok kelapa. Saya meneliti sendiri bersama beberapa mahasiswa sampai ke laboratoium di Jepang," ujarnya.

Ia menjelaskan, grafena adalah material baru yang biasa digunakan untuk pembuatan barang elektronik atau panel surya. Jumlah bahan dasarnya yang terbatas membuat harga grafena melambung tinggi. Meski begitu, grafena tetap menjadi incaran dunia karena kemampuannya yang luar biasa.

"Dengan grafena, saya dan mahasiswa saya pernah mengembangkan anti deteksi gelombang radar pada objek yang bergerak," paparnya yang mengambil program doktoral di ITB.

Terkait IAAM, tambahnya, Darminto mengaku tak pernah mendaftar. Dia justru diundang langsung oleh panitia European Advanced Materials Congress (EAMC) untuk mendapat penghargaan yang diserahkan di Swedia.

"Selain Indonesia, juga ada peserta dari Asia ada Tiongok, Jepang, Korea, Taiwan dan India. Dari Indonesia sendiri ada tiga orang yaitu saya dari ITS, dua lagi dari Universitas Andalas dan UGM," tambah Darminto.

Dirinya menambahkan, penghargaan IAAM yang diperolehnya didasari pada sejumlah riset yang dilakukan sepuluh tahun terakhir. Dari sekitar 400 karya yang masuk, hanya sepuluh persen saja yang berhasil membawa pulang medali ke negaranya.

"Alhamdulillah saya termasuk di dalamnya, meski saya sebenarnya tidak pernah tahu dan membayangkan," bebernya sambil tertawa.

Tak hanya aktif meneliti bahan alam, Darminto mengaku dirinya juga banyak terjun di Indonesian Neutron Scattering Society (INSS). Organisasi yang berurusan dengan nuklir ini bekerjasama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk sejumlah penelitian khususnya di bidang pengembangan material dengan memakai hamburan neutron.

"Lewat INSS ini lah saya bisa menjadi komite eksekutif di AONSA. Sehingga akan terus terjalin relasi dan penelitian akan terus berkembang," ungkapnya.

Darminto mengaku, hal ini membuatnya bisa menggunakan banyak fasilitas di sejumlah laboratorium di BATAN maupun laboratorium di beberapa negara seperti Thailand dan Jepang. Tak hanya itu, ia juga secara khusus mengirimkan beberapa mahasiswa ITS untuk meneruskan beberapa penelitiannya di laboratorium tersebut.

"Ini menjadi stimulus bagi para peneliti muda untuk terus berkarya terutama di bidang material yang berhubungan dengan nuklir. Meski Indonesia sendiri masih jarang memanfaatkannya," pungkasnya. (arn/pus)

Berita Terkait