ITS News

Selasa, 24 November 2020
05 Agustus 2016, 18:08

Sulap Kulit Manggis Jadi Solar Cell

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Lima mahasiswa tersebut adalah Ichsanul Huda, Santi Puspitasari, Wahyu Indayani, Badri Gigih Setyawan, dan Muhammad Taufik Al Asy’ari. Kelimanya mengangkat proposal berjudul Evaluasi Penggunaan Sensitizer Dye Antosianin Kulit Manggis, Dye SintesisN-749, dan Kuantum Dot CdSe Terhadap Karakteristik Prototipe Dye Sensitized Solar Cell.

Proyek penilitian ini menggunakan kulit manggis sebagai zat warna Dye Sensitized Solar Cell (DSSC). DSSC sendiri merupakan sel surya yang memiliki semikonduktor dengan zat warna yang menentukan keefektifan sel tersebut menyerap energi dari matahari. "Energi yang ditangkap dari matahari akan menggerakkan elektron, sehingga menghasilkan listrik," terang Santi ketika dijumpai ITS Online.

Untuk efektivitas penyerapan energinya, kelompok ini memilih menggunakan zat antosianin yang dikenal memiliki daya serap energi yang tinggi. Zat ini dapat diperoleh dari berbagai jenis buah berwarna ungu. "Kami memilih kulit manggis karena buah ini mudah ditemukan di Indonesia dan biasanya kulitnya dibuang jadi limbah. Daripada mengotori lingkungan, mending dimanfaatkan jadi sel surya," ujar Santi.

Dalam penelitian ini, Santi dan teman temannya juga menggunakan dye antosianin, dye sintesis N-749, serta kuantum dot CdSe. Setelah melakukan pengujian di laboratorium, kelompok ini menyimpulkan bahwa performasi prototype DSSC  dapat ditingkatkan dengan meningkatkan daya serap dye sensitizer-nya. "Hal ini dilakukan dengan menambahkan dye sintesis N-749 dan kuantum dot CdSe pada antosianin kulit manggis," jelas mahasiswi jurusan Fisika tersebut.

Setelah pengujian, kelompok ini menemukan bahwa campuran antosianin dengan dye sintesis N-749 memiliki daya serap energi lebih tinggi daripada campuran antosianin dengan kuantum dot CdSe. Jika menggunakan kuantum dot CdSe, efisiensi yang diperoleh adalah 106,3 persen sedangkan pencampuran dye sintesis N-749, efisiensi yang diperoleh mampu mencapai angka 134,1 persen.

Namun untuk pemanfaatannya,  dye sintesis N-749 tidak boleh digunakan terlalu banyak, sebab bahan ini bersifat toksik bagi lingkungan. "Kami menggunakan dye sintesis N-749 sebanyak 20 persen untuk mendapatkan daya serap tinggi agar tidak menimbulkan bahaya bagi lingkungan," tutur mahasiswi angkatan 2012 itu.

Dikatakan Santi, penelitian ini, selain didanai Dikti, telah diajukan pada International Conference on Engineering Science and Nanotechnology (ICESNano) 2016. "Kedepannya penelitian ini akan kami kembangkan lagi, namun saat ini kami sedang bersiap melombakannya pada Pekan Ilmiah Nasioan (Pimnas) 29 di Bogor. Doakan saja sukses," pungkasnya. (ven/hil)

Berita Terkait