ITS News

Sabtu, 12 Juni 2021
13 Maret 2016, 08:03

Ingin Menjadi Kreatif, Ini Kiat-Kiatnya

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Sembari mengenakan blangkon dan membawa boneka bernama Si Kuprit sebagai ciri khasnya, pria yang memiliki nama asli Wahyu Lies Sundoro ini berbagi kiat-kiat mengembangkan ide dan berfikir kreatif. "Cukup dengan tiga hal ini saja. Passion, Problem, dan Opportunity," jelas Wahyu.

Menurut Wahyu, definisi passion disini memiliki arti yang berbeda dengan hobi. "Kalau hobi itu dilakukan saat ada waktu luang, sedangkan passion dilaksanakan dengan meluangkan waktu," urai pria yang pernah meraih penghargaan  HIPMI Inspiration Award 2014 ini.

Lebih lanjut, Wahyu menjelaskan mengenai passion dengan menceritakan seorang figur fisikawan terkenal, Sir Isaac Newton. "Newton itu ahli fisika tetapi passion-nya di filsafat. Karena itu dia sering melamun hingga menemukan konsep gravitasi yang justru bisa mengubah zaman," terangnya.

Kemudian untuk problem, dirinya mengaku jika ide bisa didapatkan dari suatu masalah. "Caranya, ya lihat saja masalah dari berbagai sudut pandang," ujarnya. Kali ini Wahyu menganalogikannya dengan adegan dalam film Titanic, dimana kedua pemeran utamanya, Jack dan Rose, sedang terapung di lautan es dengan beralaskan balok kayu.

Seperti yang kita tahu, Jack pun pada akhirnya meninggal akibat tenggelam demi menyediakan tempat bagi Rose agar bisa berada di atas balok kayu tersebut. "Padahal, balok kayu tadi juga muat lho untuk dua orang kalau posisinya diatur dengan benar, bahkan sampai bisa dibuat bersantai segala dan main kartu remi bareng," selorohnya.

Terkait opportunity, Wahyu menyarankan untuk menciptakan peluang sendiri agar bisa tercipta peluang-peluang baru bagi orang lain. "Senangnya bikin usaha itu waktu kita bisa menginspirasi orang lain," ucapnya.

Wahyu memberi contoh melalui seorang tukang becak di Yogyakarta bernama Hari. Diakui Wahyu, Hari termasuk orang yang pandai menangkap peluang. "Kita tahu, semua turis yang ke Yogya pasti lewat online. Makanya, Pak Hari sampai membuat blog, twitter, dan berkeliling hotel untuk menaruh kartu nama agar orang tahu jasa yang beliau tawarkan," terangnya.

Pria lulusan Jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berpesan agar saat mendirikan usaha nanti, jangan sampai melakukannya seorang diri. "Maksudnya, lingkungan juga harus mendukung. Kita tidak bisa berkembang kalau sendirian," pesannya.

Oleh karena itu, sejak awal terjun ke dunia bisnis, Wahyu langsung memutuskan untuk bergabung dengan komunitas wirausaha di kotanya. "Saat ada masalah, teman-teman akan memberikan saran dan dukungan," jelasnya.

Selain itu, untuk bisa bersaing, Wahyu mengingatkan bahwa menjadi berbeda saja tidak cukup di zaman sekarang. "Tidak semudah itu, banyak usaha orang lain yang lebih unik. Jadilah yang unik dari yang paling unik," tegasnya. Dirinya beranggapan seorang entrepreneur itu merupakan orang yang nekat, tetapi terarah.

Awal Mula Si Kuprit

"Kuprit merupakan representasi dari diri saya," ungkap Wahyu sembari menunjuk ke arah boneka mungil yang berpenampilan serupa dengan dirinya. Nama Kuprit sendiri muncul sewaktu dirinya menjalani masa orientasi di kampus.

"Waktu itu, kami diwajibkan memakai nama yang berbau kimia. Saya cari di buku, lalu ketemu kata kuprit yang kedengarannya nyeleneh," kenangnya. Walaupun tidak paham dengan artinya, Wahyu tetap kekeuh menggunakan nama tersebut sebagai identitas dirinya sewaktu ospek.

"Senior saya saja juga tidak tahu artinya, apalagi saya yang waktu itu masih mahasiswa baru," canda pria kelahiran Yogyakarta 36 tahun silam ini. Usut punya usut, ternyata kuprit sendiri merupakan nama lain dari senyawa tembaga oksidan alias Cu2O.

Dari situlah, dirinya mulai tertarik mengembangkan karakter bernama Si Kuprit melalui media komik dan mendirikan usaha kaos tomat, kaos yang memiliki desain berupa kalimat-kalimat plesetan sejak 2008. (fah/man)

Berita Terkait