Program yang direncanakan berjalan selama lima kali jadwal temu itu digelar sejak Oktober hingga Desember nanti. Materi yang diajarkan pun beragam, mulai dari menemukan universitas yang sesuai, menentukan biaya pendidikan, mengikuti tes standardisasi, menyelesaikan dokumen aplikasi, hingga final check dan pengumpulan dokumen. Selama pembimbingan tersebut, peserta dibina oleh Ambarizky Trinugraheni, mentor dari Education USA.
Wanita yang kerap dipanggil Ambar itu menuturkan, tujuan dari program tersebut adalah membantu peserta yang kebingungan mempersiapkan aplikasi. "Dalam mentoring ini, setiap peserta akan dibimbing satu persatu hingga diterima di salah satu universitas di Amerika Serikat," tuturnya.
Secara keseluruhan, peserta akan dibimbing menemukan universitas yang sesuai dengan minat. Kemudian, dilanjutkan dengan identifikasi lembaga yang berpotensi mendukung biaya pendidikan. Tak hanya itu, peserta juga dibina untuk mengerjakan berbagai tes yang diujikan universitas di Amerika.
Tes yang dimaksud Ambar tersebut di antaranya adalah Test of English as a Foreign Language (TOEFL), International English Language Testing System (IELTS), Graduate Record Examination (GRE), ataupun Graduate Management Admission Test (GMAT).
Bahkan, secara personal, peserta akan dibina untuk menuliskan personal statement ataupun study objective yang mampu memikat selektor dari pihak universitas. Untuk melengkapi mentoring ini, peserta tak hanya diberikan workshop dan pembinaan, tetapi setiap peserta diberikan tugas untuk menguji peningkatan kemampuan. Tugas tersebut meliputi pembuatan daftar universitas tujuan, timeline aplikasi, simulasi TOEFL dan GMAT, serta membuat draf personal statement.
Mahasiswa Indonesia Minim
Menurut mentor asal Surabaya itu, di Amerika Serikat, setidaknya terdapat lebih dari 4000 universitas terakreditasi dengan ragam ilmu yang terus dikembangkan. Sistem pendidikannya pun fleksibel. Untuk beberapa jurusan, mahasiswa sarjana dapat melanjutkan program doktoral tanpa harus menyelesaikan program magister.
Meski demikian, Ambar menyayangkan sedikitnya jumlah mahasiswa Indonesia yang berkuliah di negara adi daya itu. Saat ini, ada sekitar 7920 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan tinggi di Amerika. Jumlah tersebut sangat jauh bila dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Padahal, dari segi pengetahuan, mahasiswa Indonesia tidak kalah dengan negara lain. "Biasanya mahasiswa Indonesia memiliki nilai GRE yang tinggi," terang Ambar.
Salah satu penyebab rendahnya minat mahasiswa Indonesia berkuliah di negara kelahiran Bill Gates itu, kata Ambar adalah karena minimnya informasi beasiswa. Selain itu, proses seleksi yang rumit serta dokumen yang beragam membuat aplikan enggan mencoba.
Melalui program ini, wanita yang pernah menjadi asisten pengajar di Arizona State University itu berharap, mahasiswa ITS mampu menembus proses seleksi universitas di Amerika. "Sehabis program ini, saya berharap semakin banyak mahasiswa ITS yang mencicipi pendidikan di Amerika Serikat," tutupnya. (ven/mis)
Kampus ITS, ITS News — Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus berkomitmen meningkatkan kualitas layanan melalui penyelenggaraan Inhouse
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus mengukuhkan perannya di kancah global dengan memimpin forum
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut ambil bagian dalam Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Rehabilitasi dan
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat riset dan inovasi. Komitmen tersebut