Acara yang dibuka oleh Dekan FTif dan Ketua Jurusan (Kajur) JSI ITS itu mengusung tema Futuristic yakni Future Information System to Involved Creativity. Melalui tema itu peserta olimpiade dituntut menunjukkan inovasi idenya dalam menyelesaikan masalah yang ada.
Khususnya yang berhubungan dengan TIK dan bisnis. Permasalahan yang diangkat di olimpiade itu sendiri adalah untuk menjawab tantangan masa kini. Yakni tak cukup hanya aplikasi yang cerdas dan bisa kerja keras saja, melainkan juga harus bisa berpikir kreatif.
Kemudian pada babak penyisihan 643 tim itu akan disaring menjadi 30 tim terbaik yang bisa mengikuti babak semifinal, Sabtu (28/11) mendatang. Dan sehari setelahnya, harus beradu kembali pada babak final untuk memperebutkan hadiah sebesar Rp 17 juta.
Ada dua kategori peserta BIONIX 2015, yakni ketegori online dan offline. Perbedaannya terletak pada saat pengerjaan soal olimpiade. Peserta online mengerjakan melalui website BIONIX sedangkan peserta offline mengerjakan soal secara langsung di Grha ITS. Waktu pengerjaan peserta online dan offline dilaksanakan bersamaan selama dua jam sejak pukul 08.30 WIB.
"Ada 413 tim peserta offline dan 230 tim peserta online," ungkap Hafizudin Wirawan konseptor BIONIX 2015. Hafizudin menambahkan bahwa peserta offline kebanyakan berasal dari Surabaya, Gresik dan Madura sedangkan peserta online berasal dari luar Surabaya seperti Jakarta, Depok, dan Samarinda. Hafizudin berharap dengan adanya kegiatan ini para pelajar SMA/SMK tertarik dengan jurusan SI sehingga akan mempertimbangkan untuk melanjutkan kuliah di jurusan ini.
Mengenai soal olimpiade, ada 100 soal yang diujikan pada babak penyisihan ini. Lalu untuk babak semifinal nantinya akan ada lab visit dimana para peserta akan mengunjungi laboratorium di JSI dan mengerjakan soal di lab yang telah ditentukan itu. "Hasil penilaian babak penyisihan ini akan diumumkan seminggu setelah acara hari ini," tutur Firzah A. Basyarahil koordinator tim soal.
Tanaya Devi, peserta dari SMA Negeri 2 Surabaya mengaku sedikit kesulitan dalam mengerjakan soal olimpiade, "Sudah belajar dari referensi soal yang ada di web tapi yang keluar tidak begitu sesuai, sehinga sempat kebingungan," ungkap pelajar kelas XII SMA ini.
Berbeda dengan Fierdaus Budhi Raharja, peserta dari SMA Negeri 1 Lamongan mengungkapkan bahwa waktu yang diberikan untuk mengerjakan soal kurang sehingga ada beberapa soal yang belum sempat dikerjakaannya. "Waktunya habis padahal kalau dilihat soalnya tidak begitu sulit," ujar Fierdaus. Keduanya pun berharap dapat masuk ke babak semifinal bersama timnya masing-masing. (n9/n13/akh)