Ir Murtijas Sulistijowati S MT, Ketua Pelaksana Konferensi Internasional Jurusan Arsitektur menuturkan, konferensi ini diadakan sebagai upaya mengangkat kejayaan arsitektur Indonesia di masa lampau. Ia berpendapat bahwa pola peletakkan dan penggambaran arsitektur pada zaman dulu lebih sederhana dibandingkan sekaran Sedangkan gaya arsitektur saat ini menjadi lebih modern dan tertata.
Namun ia menilai bahwa hal tersebut akan dapat menciderai kearifan lokal jika dibiarkan. ”Masyarakat cenderung mengutamakan apa yang telah ditemukan sekarang tanpa mau menengok dan mempelajari apa yang dulu pernah ada," Jelas Lis, sapaan akrabnya.
Ia juga menekankan bahwa pola kehidupan perkotaan jelas berbeda dengan pedesaan. Begitu juga ketika berbicara mengenai zaman sekarang, tentu berbeda dengan dulu. Ada yang ingin tetap melestarikan apa yang telah dimilikinya. Namun, di sisi lain ada pula pihak yang dengan mudahnya goyah terhadap gempuran arus globalisasi.
Dalam konferensi yang dihelat di Jurusan Arsitektur ITS ini, istilah arsitektur yang dibahas tak hanya sebatas gaya arsitektur, melainkan juga meliputi aspek sejarah yang ada di Indonesia. Konteks tersebut termasuk rumah rakyat, bangunan monumental, pemukiman, hingga perkotaan.
Lis menegaskan, konferensi bukan mencari mana pilihan yang benar maupun yang salah, apalagi ada keberpihakan. ”Tetapi kami ingin secara kritis menjelajahi arsitektur yang ada dan pernah ada di Indonesia," ungkapnya kepada ITS Online saat ditemui di sela acara, Selasa (1/9).
Melalui konferensi ini Lis juga ingin mengutarakan hasratnya dalam mempelajari bagaimana melakukan pendekatan untuk mengerti dan mengapresiasi karya arsitektur Nusantara. Karena arsitektur Nusantara merupakan tradisi yang sudah cocok dengan iklim dan budaya Indonesia.
Sehingga kita bisa mengembangkan lagi pendekatan yg telah dilakukan untuk desain di masa mendatang. "Itulah mengapa kita mempelajarinya. Beda cerita jika dibandingkan antara gaya arsitektur di negara empat musim dengan di dua musim seperti Indonesia," pungkasnya.
Mengkaji Lumbung Indonesia
Pembicara yang diundang dalam konferensi ini pun tak sembarangan, yakni Koji Sato, seorang peneliti sejarah arsitektur Indonesia asal Jepang. ”Beliau sudah lama tinggal di Indonesia. Makanya lancar berbahasa Indonesia dan memiliki data yang cukup relavan," ucap perempuan asal Kota Malang ini.
Sebagai pembicara, Koji mengakui telah banyak melihat tipologi arsitektur Indonesia, terutama yang dipengaruhi austronesia. Austronesia sendiri yakni satu bangsa yang mempunyai ciri khas sama yang berasal dari Taiwan dan berkembang dari Papua sampai Hawaii. Salah satu tipologi arsitektur yang menjadi objek penelitian Koji adalah lumbung milik masyarakat Indonesia.
Ia menyebutkan, lumbung adalah rumah tinggal bagi nenek moyang. Meski pada awal lumbung merupakan tempat menyimpan makanan, ia meyakini bahwa lumbung berasal dari nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun. Namun karena terdapat perkembangan pada gaya arsitektur, bentuk lumbung dapat berubah-ubah.
Jika kita melihat lumbung yang ada di Sumbawa dan Nusa Tenggara Barat, lanjut Koji, maka disana terdapat empat lantai. Pada lantai paling atas adalah tempat nenek moyang, kemudian lantai tiga adalah tempat menyimpan makanan, lantai kedua sebagai tempat tinggal, hingga lantai dasar untuk bekerja.
Karena dalam sejarahnya, lumbung memang sudah ada sejak zaman dulu. ”Yang pasti lumbung menyimpang aroma sakral. Kalau penghuni lumbung tersebut meninggal dunia, maka arwahnya akan selalu berada di atas lumbung tersebut," aku Koji.(owi/ali)
Kampus ITS, ITS News – Bukan sekadar sebagai pemandu wisata, pelajar di Kecamatan Tosari, Probolinggo kini disiapkan menjadi duta
Kampus ITS, ITS News — Untuk lebih mengenalkan diri ke masyarakat luas, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar kegiatan
Kampus ITS, ITS News — Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil meraih juara 1 dalam mengembangkan kecerdasan buatan
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menegaskan perannya sebagai agen perubahan melalui Program Pengabdian