Dalam sambutannya, Arief Yahya menjelaskan, sebagai bentuk pengembangan industri kreatif digital di wilayah Indonesia timur, DILo menjadi salah satu sarana yang dikembangkan oleh Telkom dan ITS untuk mendukung mengembangkan hal tersebut. Tak tanggung-tanggung, peraih penghargaan Marketeer of the Year tersebut juga mengungkapkan akan menganggarkan sedikitnya Rp 5 miliar untuk pengembangan industri kreatif digital di ITS. ”Dengan tanggung jawab tak hanya untuk lingkup ITS, namun juga untuk wilayah Indonesia timur sebagai wujud kepedulian pada Indonesia,” tandasnya.
Menurut Arief, sedikitnya terdapat tiga tahap dalam pengembangan industri kreatif digital yaitu, inovasi, inkubasi dan investasi. Di mana dari ketiga tahapan tersebut, Telkom akan berupaya untuk ikut campur dalam pengembangan hal tersebut. ”Maka dengan adanya fasilitas digital yang representatif ini diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan mahasiswa dan masyarakat dalam mengembangkan industri kreatif digital ke depannya,” ujar pria kelahiran Banyuwangi tersebut.
Fasilitas ini pun, lanjut Arief, bisa dijadikan sebagai tempat edukasi untuk start-up bisnis , uji coba konten dan aplikasi sampai proses komersialisasi. Selain itu, DILo yang berlokasi di gedung Lembaga Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi (LPTSI) ITS ini didesain dengan konsep 3S yaitu, Studying, Searching dan Socializing. Dilengkapi pula dengan fasilitas broadband internet accesss, aplikasi pendukung pencarian referensi ilmiah, sarana pembelajaran kolaboratif, tempat sosialisasi dan refreshing dalam ruangan yang privat, nyaman dan teknologi tinggi.
Peluncuran DILo ini juga sebagai salah satu bentuk dukungan Telkom pada program pemerintah Jatim Bumi Broadband. Hal ini sejalan dengan program pemerintah RI yang dikenal dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dalam bidang ICT.
Sementara itu, Mendikbud juga mengungkapkan apresiasinya kepada Telkom dan ITS yang telah berupaya memajukan industri kreatif digital di tanah air. Nuh merasa manfaat dari DILo sendiri adalah sebagai titik temu ide yang berasal dari mahasiswa untuk saling bertukar informasi. ”Sehingga hal ini bisa membangkitkan ekosistem keingintahuan inteleketual mahasiswa dan masyarakat nantinya,” ujar Nuh optimistis. (van/ady)