Tak dapat kita pungkiri betapa besar peran seorang guru di Indonesia. Di pundak mereka nasib bangsa ini dipertaruhkan. Melalui didikannya, semua anak bangsa dididik dan berpengetahuan hingga lepas dari zona kebodohan. Namun, sebagai seorang murid, kita mempunyai sejumlah penilain untuk para guru.
Masih banyak ditemui guru-guru zaman sekarang yang menyimpang tentang jam masuk, hukuman, atau bahkan bolos. Alasannya pun beragam. Tentang keluarga-lah, macet-lah, sampai susah mendapatkan kendaraan. Jika ditelaah, alasan-alasan yang diberikan nyaris hampir sama dengan seorang siswa yang telat datang ke sekolah. Bedanya, murid telat dapat hukuman, sedangkan guru tidak.
Dengan berbagai fasilitas yang didapat melalui berbagai program pemerintahan, tak heran jika banyak guru yang menyepelekan masalah kedisiplinan dan ketaatan peraturan. Di daerah-daerah tertentu, masih banyak ditemui guru-guru yang bolos kerja tanpa meninggalkan surat keterangan tidak masuk ataupun semacam pemberitahuan tidak masuk. Alhasil, murid-murid lebih enggan masuk sekolah. Mereka menganggap hal tersebut tidak ada bedanya dengan acara bermain biasa. Hanya bedanya, menggunakan seragam sekolah.
Mengenai semboyan pahlawan tanpa tanda jasa yang sangat melekat pada seorang guru, mungkin lebih tepat disandang oleh guru yang benar-benar mengorbankan segenap kemampuan dan dapat menjadi contoh bagi murid-muridnya. Terutama bagi guru honorer yang telah mengabdi selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.
Dengan gaji yang sangat minim, jiwa mereka tetap terpanggil untuk mengabdikan segenap kemampuan dirinya untuk negeri. Ditambah beberapa guru honorer mendapat tempat mengajar di daerah terpencil, di mana lokasi tersebut harus ditempuh beberapa jam lamanya. Bisa dibayangkan, dengan gaji yang berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu saja per bulan, setiap hari mereka menempuh medan sulit untuk membebaskan anak negeri dari kebodohan zaman.
Tidak hanya sampai di situ, terkadang seorang guru menjadi alat politik dari sebuah pemerintahan yang ada di daerah tertentu. Saya ingat cerita seorang guru yang masa mengajarnya hampir purna, tiba-tiba dipindahtugaskan di daerah gunung yang notabene terpencil. Alasannya sepele, beliau dianggap berkhianat karena tidak menjadi tim sukses dari pemilihan seorang pejabat ketika itu.
Alasan tersebut diperkuat ketika seorang pejabat tertinggi tersebut salah kirim pesan singkat ke nomor tetangganya yang notabene teman dari pejabat tersebut. Pesannya berisi perintah pemidahan tugas seorang guru lain ke daerah yang sama karena bukan tim sukses dari pejabat tersebut. Maklum, ketika itu ia masih menjadi pemimpin. Saya percaya, masih banyak tumpukan Surat Keputusan (SK) pemindahan tugas guru lainnya yang menanti. Masalahnya, siapa selanjutnya?
Ottidilia Nur Laily
Mahasiswa Jurusan Desain Produk Industri 2013
Surabaya, ITS News — Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkunjung langsung ke
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan akses pendidikan tinggi yang inklusif
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus berupaya meningkatkan kapasitas mahasiswanya, termasuk dalam bidang investasi keuangan.
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menorehkan prestasi internasional melalui capaian tiga tim mobil hemat