Dengan energi dari sampah non-organik yang dibakar, pembangkit listrik tersebut dapat menghasilkan daya listrik hingga 2.000 Watt per hari.
Bambang Sudarmanta, dosen teknik mesin di ITS, mengatakan bahwa ide awal inovasi itu didapat dari masalah sampah di kampus ITS dan kota Surabaya.
"Kami mencoba untuk mengatasi masalah sampah ini dengan cara mengolahnya secara terpadu Sampah non-organik kami masukkan ke insinerator dan diubah menjadi listrik. Sampah organik nantinya akan kami jadikan kompos untuk menyuburkan tanaman," ujar Bambang.
Menurut Bambang, dalam insinerator tersebut, sampah dibakar dan gas hasil pembakarannya digunakan untuk memanaskan air sampai menguap. Uap air itu kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin, yang kemudian menghasilkan putaran yang menggerakkan generator pembangkit listrik.
Budi Rachmad, alumni ITS Surabaya yang memproduksi mesin pengolah sampah tersebut, menjamin bahwa sistem pembangkit listrik tersebut tidak akan menimbulkan polusi maupun dampak negative lain pada lingkungan.
"Kami telah melakukan tes dengan beberapa parameter. Dari tes emisi, tidak ada bau yang menyengat. Dari penampakan, kita tidak menemukan ada debu atau warna kehitaman. Upaya ini tidak mengganggu lingkungan," kata Budi Rachmad.
Rektor ITS Tri Yogi Yuwono berharap langkah ini akan diikuti oleh berbagai pihak, termasuk pemerintahan di setiap daerah yang ingin mengatasi masalah sampah.
Kampus ITS, ITS News — Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus berkomitmen meningkatkan kualitas layanan melalui penyelenggaraan Inhouse
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus mengukuhkan perannya di kancah global dengan memimpin forum
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut ambil bagian dalam Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Rehabilitasi dan
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat riset dan inovasi. Komitmen tersebut