ITS News

Sabtu, 21 September 2019
09 Januari 2012, 20:01

Daerah Resapan Air, Bisakah Diselamatkan?

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Air hujan melapukkan dan menghasilkan erosi pada permukaan bumi dalam bentuk padatan dan larutan, sebagian meresap ke dalam tanah dan sebagian lagi mengalir masuk ke aliran sungai menuju ke laut. Padatan dan larutan yang meresap ke dalam tanah sebagian terjerat partikel tanah, sebagian meresap semakin dalam, sebagian mengalir di antara butir tanah.

Jumlah air tanah sangat tergantung luasan dan kondisi lingkungan daerah resapan. Sebagai contoh daerah resapan luas dengan hutan lebat akan menghasilkan air tanah dengan jumlah yang besar. Atau daerah resapan yang luas dengan bentuk cekungan seperti Kaldera Bromo dapat menyebabkan air yang meresap mencapai 100%.

Sebagian air tanah keluar sebagai mata air, sebagian mengalir di bawah tanah sebagai air tanah dangkal dan air tanah dalam (artesis) menuju ke laut. Padatan dan larutan yang terbawa aliran sungai sebagian akan mengandap di sepanjang sungai, sebagian mengendap di bantaran sungai, sebagian masuk ke tubuh air laut. Siklus air ini berlangsung jutaan tahun lalu sebelum manusia ada.

Setelah semua sistem berjalan baik dan comfortable maka manusia didatangkan atau dengan tugas utama mengelola dan menyayangi apa-apa yang sudah disediakan. Pada kenyataannya “tugas” itu menjadi menjadi berantakan setelah terjadi peningkatan jumlah penduduk yang diikuti peningkatan kebutuhan sandang, pangan, air dan papan.

Pada saat yang bersamaan terjadi peningkatan intelektual manusia sehingga kemajuan teknologi dan informasi luar biasa berkembang. Secara alamiah terjadi pemanfatan sumber daya yang melebihi kapasitasnya, seperti kebutuhan sandang  dan  papan. Demikian pula terjadi peningkatan kebutuhan air bersih dan dikembalikan ke alam dalam keadaan tercemar.

Kebutuhan akan sumber daya alam semakin meningkat. Kebutuhan papan menjadi sangat krusial karena semakin merambah kawasan-kawasan yang mestinya tidak boleh dihuni. Seperti kawasan rawan bencana, kawasan resapan air, kawasan mata air dan sebagainya. Kawasan resapan air kian terganggu, menyebabkan perubahan siklus air dan lambat laun akan terjadi seleksi alam yang bisa memusnahkan umat manusia tanpa kecuali.

Saat ini, sungguh memprihatinkan karena banyak gunung yang gundul tanpa hutan sama sekali dan dirubah menjadi persawahan, kebun, sayur-sayuran dan lain-lain.  Kita tahu penebangan hutan besar-besaran menyebabkan air hujan tidak akan meresap tapi lebih banyak mengalir sebagai air pemukaan dan tanah tidak terlindungi.

Tidak adanya air yang meresap akan menyebabkan tidak adanya air tanah dan air kapiler dalam tubuh tanah. Air tanah dan air kapiler inilah yang mengatur lengas tanah dan bila tidak ada akan terjadi kekeringan, kebakaran hutan dan akan mengundang angin puting beliung. Hilangnya air tanah akan diikuti pula pengurangan jumlah mata air yang keluar di sekeliling gunung, selanjutnya akan diikuti oleh kekurangan debit sungai.

Sedangkan aliran air permukaan meningkat, yang juga akan diikuti oleh peningkatan intensitas erosi tanah permukaan yang bisa mencapai ribuan kali lipat. Ibarat kepala manusia yang awalnya berambut kemudian dipotong gundul sehingga air semuanya mengalir tanpa ada yang tersimpan di sela-sela rambut.

Aliran air permukaan akan menyebabkan erosi tanah, membawanya masuk ke badan sungai sehingga terjadi sedimentasi yang akan mendangkalkan sungai. Saat turun hujan berikutnya, alur sungai tidak muat dan air akan meluap sebagai banjir. Bila erosi ini dibiarkan maka tanah di pegunungan akan habis dan tersisa batuan dasar yang akan tidak bisa ditanami lagi. Dampak lain penggundulan hutan yang paling mengerikan adalah longsor dan diikuti banjir bandang.

Sebetulnya kerusakan hutan juga akan berakibat pada ekosistem. Tanda-tanda itu sudah ada, di antaranya adalah serangan ulat bulu, serangan kelelawar, serangan gajah dan lain-lain di pemukiman penduduk. Mereka menyerang karena habitat mereka terganggu atau sudah tidak ada. Yang sangat dikhawatirkan adalah terjadinya serangan virus.

Penggundulan hutan sudah dimulai sejak lama, bermula dari kebijakan pengembangan kawasan wisata dan pemukiman di daerah pegunungan sehingga terjadi pengurangan kawasan hutan. Memasuki tahun 1997 kegiatan ini diikuti oleh pengambilalihan hutan oleh rakyat atas nama keadilan, atas nama kemiskinan dan atas nama kerakusan, sehingga hutan di gunung jadi gundul ndul.

Tahun 2002 saat terjadi hujan lebat di seluruh Indonesaia terjadi erosi dan longsor diikuti banjir di banyak tempat. Korban, kerusakan serta kerugian terjadi dimana-mana.  Tahun-tahun berikutnya Indonesia memanen bencana seperti berkurangnya lebih dari separuh jumlah sumber air (mata air), kekeringan, kebakaran hutan. Hal ini disertai oleh peningkatan intensitas bencana erosi, longsor, banjir, banjir bandang dan angin puting beliung.

Salah satunya pesan bijak para leluhur adalah bahwa sebaik-baik manusia diantara kita adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Untuk itu, Komunitas Peduli Kawasan Resapan Air digagas dengan tujuan merubah ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya hutan dengan harapan dapat menyelamatkan kawasan resapan air. Selamatkan kawasan resapan air sekarang!

Ir Amien Widodo MS
Dosen jurusan Teknik Sipil ITS

*)Bagi semua yang tertarik dan ingin berkonstribusi ide/pemikiran/teknologi/inovasi/energi mengenai daerah resapan air silahkan mengirim email ke amien@ce.its.ac.id .

Berita Terkait