Fenomena itu membuat Rizal Rinumpoko, mahasiswa semester IV jurusan statistika ITS tertarik menelitinya. Dibantu tiga rekannya dan dengan bimbingan Dr Sutikno MSi, dia menggunakan metode distribusi general extreme value untuk membaca dan mengindentifikasi fenomena perubahan iklim itu.
"Metode terbaru yang kita pakai cukup efektif menjelaskan terjadinya perubahan iklim, khususnya di lintang tinggi seperti Jakarta dan Surabaya," ujarnya, Senin (30/5).
Dari sampel yang diambil, dikhususkan ke Jakarta karena dinilai mirip Surabaya. Hasilnya, rata-rata curah hujan periode 1 (1961-1990) 102,27 mm, sedang periode 2 (1991-2003) 96,54 mm, dan simpangan baku tiap periode secara berurutan 83,23 dan 89,85. "Setelah kita uji dengan metode distribusi dan uji proposisi jelas sekali menunjukkan terjadinya perubahan iklim," jelasnya.
Temuannya itu bisa jadi rujukan awal membaca dampak ancaman perubahan iklim. International Panel Climate Change (IPCC) menyebut, dampak perubahan iklim bagi Indonesia adalah naiknya permukaan air laut yang bisa menenggelamkan kota pesisir seperti Surabaya dan Jakarta. Selain itu juga meluasnya kekeringan dan banjir, turunnya produksi pertanian, dan naiknya prevalensi berbagai penyakit yang terkait iklim.uji
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat riset dan inovasi. Komitmen tersebut tercermin pada capaian peneliti
Jakarta, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tak pernah berhenti untuk terus terlibat dalam pembangunan bangsa. Hal
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui dukungan
Surabaya, ITS News — Tingginya risiko kebencanaan serta ancaman degradasi lingkungan di kawasan pesisir menjadi perhatian serius sivitas akademika