ITS News

Selasa, 20 April 2021
14 Maret 2011, 09:03

Cari 40 Perempuan

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Seleksi akan digelar bersamaan dengan penerimaan mahasiswa baru melalui seleksi nasional masuk pergurutan tinggi negeri (SNMPTN) tahun ini. Mereka masuk dalam seleksi undangan.

Jalur khusus tanpa tes tulis ini merupakan jalur PMDK (penelusuran minat dan kemampuan) prestasi. Mereka hanya diseleksi secara akademik dengan melihat nilai rapor SMA, termasuk SMK dan MA. Mereka harus didaftarkan sekolah. "Sebenarnya program ini sama dengan PMDK reguler dengan menyeleksi nilai rapor. Namun mahasiswa khusus perempuan ini akan ditempatkan di program studi (prodi) teknik mesin. Tahun-tahun lalu kami juga sudah menyeleksi mahasiswa khusus perempuan ini," terang Herman Sasongko, Kepala Jurusan Teknik Mesin ITS kepada Surya, Jumat (11/3).

Pendaftaran mahasiswa khusus perempuan itu akan ditutup, Sabtu (12/3) pukul 12.00 WIB. Meski daya tampung yang disediakan ITS hanya 40 kuota, namun hingga saat ini peminatnya membludak.

Menurut informasi yang disampaikan ITS, sudah lebih dari 200 siswa yang mendaftar.

"Kami memprediksi peminat akan menembus angka 400 pendaftar. Jumlah ini hampir sama dengan tahun lalu yang juga berkisar di 432 peminat. Kalau pun toh peminat turun pasti hanya sedikit," tambah Herman.

Pria asli Mojokerto ini menjelaskan, program membidik mahasiswa khusus perempuan tersebut pola penerimaannya hampir sama dengan jalur undangan pada umumnya.

Di ITS, jalur undangan diterapkan dengan tiga pola. Yakni pola PMDK prestasi (juara olimpiade atau sains), bidik misi (prestasi dari keluarga miskin), dan PMDK reguler (prestasi akademik, termasuk khusus perempuan ini).

ITS akan menyeleksi sendiri pendaftar program mahasiswa khusus perempuan di prodi teknik mesin tersebut. Mereka akan melengkapi jumlah daya tampung S1 teknik mesin yang berisi sebanyak 67 kursi. "Program ini pernah diikuti oleh PTN lain. Tetapi hanya ITS yang sukses," lanjutnya.

Guru Besar Teknik Mesin ITS ini memberi alasan kenapa jurusannya membuka khusus mahasiswa perempuan. Herman dan ITS menghendaki agar isu gender juga bisa diadopsi. Selain itu, kampusnya juga ingin membuka cakrawala pengetahuan yang lebih merata. Selama ini, teknik mesin cenderung hanya diminati mahasiswa pria.

"Teknik mesin itu bukan mekanik yang lulus menjadi montir. Tetapi lebih ke mekanika yang merupakan aplikasi fisika. Di Eropa, mahasiswi masuk mesin tak tabu. Indonesia harus maju. Setidaknya, mahasiswi ini nanti hanya berkonsentrasi pada teknik yang soft (ringan). Macam enginering control atau transport," jelas Herman.  fai 

Berita Terkait