ITS News

Minggu, 18 April 2021
17 November 2009, 11:11

Finishing, Alternatif Peningkatan Nilai Tambah Sebuah Produk

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Finishing adalah serangkaian proses untuk melapisi permukaan suatu benda. Tujuannya adalah untuk memberikan nilai tambah pada produk tersebut. Pada pelatihan tahap awal ini, mereka dilatih untuk mempraktikannya pada kayu. Para pelatih melatih mereka dengan tekun dan sabar. Begitu pun dengan peserta pelatihan, mereka sangat antusias mencari pengalaman dan ilmu baru.

"Dalam finishing kayu, nilai tambah dapat diasumsikan menjadi banyak hal. Misalnya meningkatnya nilai seni, keindahan, keunikan, keawetan, bahkan nilai komersialnya,” ungkap Nanang. Dia menjelaskan, secara garis besar karakteristik finishing kayu terbagi menjadi dua. ”Penampilan dan ketahanan finishing. Dua hal itulah intinya,” imbuhnya.

Dalam hal penampilan pun masih banyak lagi pembagiannya. Mulai dari permukaan lapisan kayu, pewarnaan, bahkan sampai tingkat kilapnya. Lapisan kayu terbagi menjadi dua, yaitu pori terbuka atau yang biasa dikenal dengan gaya modern dan pori tertutup yang terkesan klasik. Untuk pewarnaan juga dijelaskan mulai dari natural, transparan, semi transparan, tutup serat (solid colour), bahkan sampai simpang rupa (special effect). Tingkat kilap juga mempunyai intensitas dari gloss (90%), medium gloss (70%), semi gloss (50%), satin (30%), dof (15%), dan dead matt (5%).

Untuk ketahanan finishing dipecah menjadi ketahanan mekanis, kimiawi, cuaca, dan ketahanan terhadap jamur dan serangga. “Ketahanan ini nantinya akan menentukan kriteria sebuah produk mau dijadikan barang interior atau eksterior,” jelasnya.

Setelah sesi materi, para mahasiswa ini dipersilakan untuk mencoba sendiri berbagai macam proses finishing. Beberapa di antaranya adalah sistem pelapisan melamin dan sistem polyurethane (PU). “Kami memberi pengetahuan tentang PU karena mempunyai banyak kelebihan dan mudah dipraktikkan,” terang Nanang. Beberapa kelebihan di antaranya adalah daya pembasahan bagus, sangat transparan, tingkat kilap tinggi untuk tipe clear gloss, tahan bau kimia, dan yang paling penting adalah non toxic.

Semua mahasiswa pun mencobanya dengan penuh antusias. Dalam pelapisan sistem PU, prosesnya juga bertahap. Mulai dari pelapisan wood filler, wood stain, sanding, bahkan sampai proses top coat. Dalam prosesnya, beberapa ada juga yang diselingi dengan proses pengamplasan. “Saya sangat senang bisa melakukan hal-hal baru disini. Karena bengkel di jurusan belum lengkap dan kuantitasnya masih belum memadahi untuk semua mahasiswa Despro. Jadi, saya akan mengais pengalaman dan manfaat semaksimal mungkin,” ungkap Angges Wismoyo, salah satu peserta pelatihan.

Menurut Andhika Estiyono ST, dosen mata kuliah modelling, hal ini sangat membantu perkembangan dan pengalaman mahasiswa. Harapannya, mahasiswa ITS mampu bersaing dalam kompetisi global, khususnya dalam bidang desain. “Oleh sebab itu, kunjungan-kunjungan seperti ini sangat dibutuhkan. Selain menambah pengalaman, kunjungan tersebut juga mampu membuka mata mereka ke dunia kerja yang sebenarnya,” ungkapnya. (niv)

Berita Terkait