ITS News

Rabu, 22 Mei 2024
31 Juli 2009, 06:07

Persiapan Delegasi Kobe: Belajar Hidup Berdampingan dengan Bencana

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Sebagai pemateri kali ini adalah Ir Wahyudi, MSc PhD, seorang ahli geologi. Pada awal materi, ia menekankan perbedaan antara hazard dan disaster. Menurutnya, hazard adalah sebuah fenomena alam yang sifatnya ancaman tapi tidak memakan korban harta bahkan jiwa. Banyak faktor yang mempengaruhi sebuah fenomena alam berubah menjadi sebuah bencana. “Jepang salah satu negara yang mampu hidup berdampingan dengan fenomena alamnya,” ujar Dosen Teknik Kelautan ITS ini.

Jepang adalah salah satu Negara dengan kondisi alam yang kurang bersahabat. Letaknya persis diantara empat lempengan tektonik terbesar di bumi, yaitu Eurasia, Amerika Utara, Pasifik, dan Filipina. Wajar, kalau di Jepang, gempa bumi itu seperti sebuah rutinitas. “Namun kita tidak pernah mendengar jatuhnya korban dari fenomena alam tersebut,” tegas Doktor lulusan Hokkaido University untuk bidang marine geology.

Ia menambahkan bahwa kondisi alam Jepang mirip seperti Indonesia. Ia memberikan ilustrasi tentang jalur patahan bumi. Terlihat jelas bahwa Indonesia dan Jepang menjadi daerah yang didiami banyak jalur patahan. Sehingga potensi bencana alam terbuka lebar. Tinggal bagaimana melakukan penanganan terhadap bencana (mitigasi).

Menurutnya, Jepang khususnya Kobe banyak belajar dari kejadian pada tahun 1995.
5000-an orang tewas dan ratusan ribu warga Kobe mengungsi akibat sebuah gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter. Wahyudi mengungkapkan bahwa sebenarnya korban jiwa yang timbul bukan disebabkan karena reruntuhan bangunan.

Hal itu terjadi karena arus pendek pada pipa-pipa gas bawah tanah yang terpacu karena pegeseran lempeng. Pada bencana itu, kota Kobe ludes terbakar. “Tidak seperti Indonesia, korban jiwa bencana gempa banyak dari reruntuhan bangunan,” tambah pria kelahiran Sragen ini.

Kobe sendiri pernah menjadi tuan tumah konferensi PBB yang membahas penanggulangan timbulnya korban jiwa akibat bencana pada tahun 2005. kejadian itu sangat tidak terduga, karena Jepang sendiri sebenarnya sudah punya penanganan khusus terhadap gempa yang memang sering terjadi disana. Salah satunya dengan sosialisasi intensif tentang mitigasi (tindakan preventif) bencana kepada masyarakatnya.

Dalam kesempatan itu, Wahyudi menyampaikan tentang teori plate tectonic. Salah satunya adalah tentang Continental Drift. Sebuah konsep yang menyatakan bahwa bumi dahulunya adalah sebuah kesatuan. Kulit bumi diibaratkan sebagai sebuah lempengan  yang mengapung. Dahulu bumi terdiri dari dua daerh besar, yaitu Gondwana dan Laurasia. Namun lempeng itu mengalami pergerakan, sehingga bumi terpisa-pisah dan berbentuk seperti yang sekarang bisa disaksikan, yaitu ada lima benua utama, Asia, Amerika, Australia, Eropa dan Afrika.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pembekalan kepada para mahasiswa ITS yang akan melaksanakan student exchange program ke Kobe University (KU). Selama dua minggu nanti, mereka akan berdiskusi seputar natural hazard di masing-masing negara dan bagaimana bentuk pencegahannya. Sepulangnya dari KU, para mahasiswa itu akan melakukan sosialisasi dari sharing yang mereka lakukan dengan mahasiswa dan beberapa professor Jepang. “Hal ini akan membawa sebuah pembelajaran baru buat Indonesia, bagaimana cara Jepang mengantisipasi korban,” tutur Mirna Tanjung Sari, Koordinator tim Go-ITS.(bah)

Berita Terkait