ITS News

Kamis, 30 Mei 2024
31 Juli 2009, 08:07

Menerawang Pengaderan di ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Libur akhir tahun memang selalu menjadi hari-hari yang menyibukkan bagi aktivis mahasiswa. Mereka sibuk menggodok konsep pengkaderan yang akan diterapkan pada mahasiswa baru. Tahun ini mungkin akan menjadi tahun yang lebih menantang bagi mereka. Pasalnya, pihak rektorat telah mengeluarkan surat resmi untuk meniadakan Orientasi Mahasiswa Baru karena bertepatan dengan datangnya bulan Ramadhan.

Beberapa Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) bisa jadi menganggap bahwa surat tersebut hanya sebuah pause. Artinya, setelah bulan Ramadhan berlalu mereka berhak mengadakan kegiatan pengaderan secara legal. Namun HMJ lain mungkin menganggap ini sebagai sebuah stop, pengaderan tidak boleh diadakan. HMJ yang berasumsi demikian biasanya membuat konsep kucing-kucingan supaya tetap bisa melangsungkan proses pengaderan.

Selama ini pengaderan selalu menjadi isu sensitif di kalangan akademisi ITS. Hal ini dikarenakan mahasiswa yang seringkali tidak akur dengan birokrasi. Padahal tidak ada yang salah dari birokrasi, begitu juga dengan mahasiswa. Tidak ada kakak yang menginginkan adiknya mati konyol oleh proses pendewasaan yang disebut pengaderan. Tidak Ada institusi yang mau namanya tercemar karena beredarnya isu perpeloncoan yang sering kali dilebih-lebihkan.

Sejatinya, pengkaderan mutlak dibutuhkan. Transformasi dari pola pikir siswa SMA ke mahasiswa akan berjalan sangat lambat tanpa pengaderan. Hal ini mengingat besarnya perbedaan cara bertahan siswa SMA dengan mahasiswa. Ketika masih menduduki bangku SMA, barangkali hanya segelintir siswa yang tidak naik kelas. Itu pun tentu siswa yang betul-betul tidak bisa mengikuti pelajaran. Di dunia perkuliahan, "mengulang" suatu mata kuliah akan menjadi pemandangan yang biasa. Sekelas dengan senior atau mahasiswa baru, bukan hal yang aneh di dunia perkuliahan. Ketika seorang mahasiswa baru belum terasah mentalnya menerima hal semacam ini, biasanya ia merasa nilai D atau E berarti kiamat. Situasi yang jauh dari orang tua membuat semangat berjuang semakin luntur. Untuk itulah diperlukan suatu proses yang bisa membuat seorang pemula memiliki mental baja dalam menghadapi berbagai tantangan hidup di kampus.

Solidaritas, disiplin, dan kemandirian selalu menjadi tiga poin penting dalam suatu konsep pengkaderan. mahasiswa bukan siswa. Tidak ada dosen yang memberi iming-iming sekotak permen ketika seorang mahasiswa mampu mendapatkan nilai sempurna dalam suatu ujian. Manajemen yang perlu diatur oleh seorang mahasiswa tidak hanya nilai akademis. Bagaimana mengatur budget supaya bisa bertahan, bagaimana harus bersosialisasi supaya tidak tertinggal tren baceman, bagaimana harus memberi semangat pada diri sendiri ketika situasi sekitar sedang tidak mendukung, semua itu terprogram di dalam otak seorang mahasiswa.

Tanpa pengaderan, membuat program semacam ini bukanlah hal yang mudah. Perlu adaptasi lebih dalam waktu yang relatif singkat untuk bisa membuat program ini.

Sayangnya kegiatan pengkaderan seringkali dimanfaatkan sebagai ajang balas dendam.

"Saya saja dulu bisa diperlakukan demikian, maka sekarang kamu pun harus lebih bisa!" barangkali begitulah pemikiran mahasiswa yang menjadikan pengkaderan sebagai balas dendam. Ketika seorang mahasiswa baru begitu rapuh dan tidak memiliki daya tahan seperti seniornya, mereka merasa perlu mengatakan manja dan terus melanjutkan pengaderan. Status warga diagung-agungkan, dan boikoter menjadi mahasiswa kasta terendah.

Hal semacam inilah yang mungkin dikhawatirkan oleh khalayak pada umumnya. Apalagi mahasiswa baru biasanya sudah memiliki mind set negatif tentang pengkaderan. Hal ini diperparah oleh peristiwa beberapa saat lalu seorang siswa baru meninggal saat penutupan MOS. Meski dia meninggal karena kondisi fisik yang memang lemah, pengaderan akan selalu menjadi kambing hitam. Tak heran bila kemudian beberapa kamera CCTV dipasang untuk mengawasi setiap proses pengaderan.

Saya teringat kampanye calon presiden BEM ITS beberapa saat lalu. Seorang mahasiswa bertanya tentang konsep pengaderan yang akan diterapkan sang kandidat manakala ia terpillih. Salah seorang kandidat menjawab bahwa ia akan melibatkan semua HMJ, baik dari Kahima maupun Departemen PSDM, untuk kemudian mengkaji konsep OMB bersama-sama. Konsep ini akan disesuaikan dengan bulan puasa kemudian dibawa ke rektorat dengan satu tujuan dan BEM ITS akan menjadi payungnya.

Kini kandidat tersebut telah terpilih sebagai Presiden BEM ITS periode 2009/2010. Tawaran yang pernah ia sampaikan dalam masa kampanye itu boleh dipertanyakan lagi. Pengkaderan tahun ini akan menjadi tantangan bagi seluruh civitas akademika. Mampukah mahasiswa dan rektorat berdamai untuk sebuah proses pengaderan?

Mampu atau tidak, satu hal yang perlu diingat, tidak ada satu anggota keluarga ITS pun yang menginginkan adanya korban karena proses pengkaderan. Tidak ada yang perlu ditakuti dari suatu proses transformasi, semua pasti akan mengalaminya.

Tika Widyaningtyas
Mahasiswi Jurusan Statistika FMIPA.

Berita Terkait

ITS Media Center > Opini > Menerawang Pengaderan di ITS