ITS News

Senin, 20 Mei 2024
15 April 2009, 16:04

facebook

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Saat ini, Facebook (FB) telah menjadi jejaring sosial terpopuler di dunia. Di usianya yang kelima tahun ini, FB telah digunakan oleh hampir 200 juta pemakai dan mengalahkan situs jejaring sosial lainnya. Awalnya, Mark Zuckerberg memperkenalkan FB dari kamarnya di asrama Harvard University untuk kalangan mahasiswa Harvard. Dalam 24 jam saja, 1200 mahasiswa Harvard sudah bergabung menjadi anggota. Kini, FB telah digunakan lebih dari 30 bahasa dan dalam proses penerjemahan 60 bahasa lain.

Di Indonesia, FB pun memiliki fenomenanya sendiri. Setelah sebelumnya Friendster (FS) menjadi primadona kebanyakkan pengguna internet di Indonesia, kini FB mulai mendominasi dan membuat FS menjadi jejaring sosial kelas dua. Bahkan ada semacam pandangan sebelah mata dari penggemar FB kepada pelanggan setia FS. Pun demikian bagi mereka yang belum menjadi pengguna FB, siap-siap saja mendapat cibiran!

Tidak cukup hanya sebagai pengguna, sepertinya sebagian orang mulai ketagihan ber-Facebook ria. Semula tidak kenal, lalu diundang. Awalnya jarang online di internet, kini warnet pun jadi tempat favorit. Apalagi setelah internet bisa diakses melalui ponsel, tiada waktu tanpa berada di dunia maya. Facebook pun jadi yang pertama dibuka saat berhubungan dengan internet. Cobalah lihat warnet-warnet atau laptop-laptop yang “mengemis jaringan” di areal hotspot, Facebook selalu ada dalam daftar yang dibuka. Download, browsing, chatting, bloging, atau hanya sekedar walking, kurang afdol rasanya tanpa disertai membuka FB.

Inilah fenomena pengguna internet sekarang. No facebook, hello……who are you? Ada seorang teman pernah menceritakan pengalamannya. Pernah dirinya ditanya oleh seseorang apakah punya FB, dijawabnya belum. “wah… ndeso kamu!” jawab yang bertanya. Mungkin karena tidak terima dibilang kampungan, sang teman pun langsung mendaftar FB. Kini, harinya pun tak lepas dari Facebook. Lantas mengapa Facebook begitu digandrungi sampai tak jarang membuat ketagihan?

Budaya Komunal
Seperti yang dikatakan Liu, Asia yang juga direpresentasikan oleh Indonesia, memiliki budaya komunal yang tinggi. Orang Indonesia gemar berteman. Orang Indonesia senang mendapat teman baru. Bahkan mereka mampu untuk bersosialisasi secara kompleks. Karena pada dasarnya semua orang butuh teman, bahkan pendiam sekalipun membutuhkan teman untuk menemani diamnya. Inilah yang kemudian menyebabkan banyak perkumpulan atau komunitas di Indonesia. Mulai dari komunitas anak punk sampai komunitas pencinta lingkungan. Mulai dari penggemar Manchester United sampai penggemar sepeda kuno. Bahkan pengidola Budi Anduk pun ada. Kopi darat sudah menjadi agenda penting para anggota komunitas tersebut. Yah….mereka senang berkumpul. Mangan ora mangan, sing penting kumpul!

Dan FB memberikan itu semua. Facebook memberi kemudahan untuk “kumpul-kumpul" ketika terkadang fisik sulit dipertemukan. Facebook memberi kemudahan pengoperasian dan memiliki aplikasi yang variatif. Facebook tidak hanya mampu mengundang teman, tapi juga mencari dan dicari. Di era modern yang hampir serba virtual ini, FB telah memberikan perspektif baru dalam bersosialisasi, memelihara relasi, atau hanya sekedar menunjukkan eksistensi jati diri.

Facebook Itu Ilusi
Meski begitu, FB telah merubah pertemuan fisik dan psikis menjadi pertemuan virtual yang dingin. Inilah yang dikhawatirkan Rocky Gerung, Dosen filsafat UI. Rocky mengatakan, evolusi tubuh kita dirancang untuk bertemu secara fisik dan psikis. Manusia diarahkan untuk memasuki situasi konflik. Ada rasa senang, cinta, marah, dan benci. Dengan kontak fisik, manusia bisa mengasah kewaspadaannya, mampu mengenali orang lain, dan bisa membaca emosi seseorang. Dengan cara inilah manusia bisa bertahan hidup. Inilah yang tidak diberikan FB.

Bagi orang yang kecanduan FB dan tidak mengimbanginya dengan pertemuan fisik, orang tersebut akan kehilangan pijakan dengan dunia nyata. Ia merasa punya banyak teman, padahal tidak. F Budi Hardiman, Pengajar filsafat politik dan sejarah filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara menambahkan, orang yang tidak bijak memanfaatkan FB terlebih bagi mereka yang berada pada tingkat kecanduan akan terkurung dalam narsisme individual dan terisolasi dari dunia nyata. Orang merasa akrab di FB, tapi tak pernah saling sapa di dunia nyata. Saat berpapasan mereka tidak saling kenal padahal di FB terdaftar dalam teman. Pengamat komunikasi Idi Subandy pun menyebut FB hanya sebuah ilusi.

Di samping itu, FB juga memberikan pengaruh pada perilaku keseharian. Bagi meraka yang sudah mulai keranjingan, sebagian besar waktu akan dihabiskan pada FB. Yang awalnya jarang online menjadi sering online dan yang biasanya sebentar kini agak lama. Facebook ternyata lebih menyita perhatian dan waktu pengguna internet yang sudah keranjingan FB daripada membuka situs lain atau mengerjakan pekerjaan lain. Inilah mengapa beberapa perusahaan di Jakarta melarang karyawannya membuka FB di kantor. Selain menghabiskan jam kerja, secara linier produktifitas juga ikut menurun. Mungkin ini juga berlaku bagi mereka yang sedang browsing tugas kuliah atau sedang menyelesaikan TA-nya sambil ber-FB ria.

Gunakan dengan bijak

Selain sisi negatif, F Budi Hardiman mengakui bahwa FB juga memiliki sisi positif. Menurutnya, FB mampu menjadi sarana pembentukan identitas. Apa yang biasanya tidak bisa diekspresikan di dunia nyata, bisa diekspresikan di dunia virtual. Di tengah populasi yang semakin membengkak, keberadaan diri seseorang sering diabaikan. Dengan FB, orang tersebut menjadi lebih berarti. Dengan FB, seseorang bisa tampil dan membangun kepercayaan diri, misalnya saja dengan menampilkan foto diri, memasang karya yang ditulisnya, dan lain sebagainya.

Dengan FB, banyak orang bertemu dengan teman-teman lama. Dengan FB, reuni SD pun bisa digelar. Dengan FB, undangan begitu mudahnya disebar. Facebook telah mendekatkan pengidola dan yang diidolakan. Facebook telah mempertemukan kita dengan tokoh-tokoh strategis di berbagai bidang yang semula terasa tidak mungkin. Dengan FB, Zara Zettira ZR menemukan penerbit bukunya. Tentu kita masih ingat, dengan FB, Barack Obama menjadi begitu fenomenal.

Lalu, bagaimana dengan anda? Sudahkah menjadi pengguna Facebook? Berapa teman yang anda miliki? Facebook merubah cara bersosialisasi, namun bukankah cara kita bersosialisasi yang mempengaruhi facebook. Facebook hanyalah alat. Gunakan dengan bijak dan tepat. Dan tetap ingat pada the real sahabat.

*Disarikan dari beberapa sumber

Emal Zain MTB
Mahasiswa Teknik Sipil ITS

Berita Terkait

ITS Media Center > Opini > facebook