ITS News

Rabu, 22 Mei 2024
07 April 2009, 10:04

Lari Pagi Berharga Sejuta Rupiah

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Pukul 05.30 WIB saya sudah berada di Stadion ITS. Ada janji lari pagi bersama teman. Memasuki stadion pagi itu, saya sudah disuguhi beberapa mobil di tempat parkir. Tidak sembarang mobil, tapi mobil berkelas. Beberapa yang saya kenal adalah Honda CR-V, Toyota Harrier, dan Mercedes S 500. Beberapa yang lain  sedikit di bawah kelasnya, semacam Innova dan Escudo. Tetap saja, bagi saya itu sudah berkelas.

Stadion masih sepi. Hanya segelintir orang yang mengelilingi lapangan. Jumlahnya kurang lebih sama dengan jumlah mobil yang terparkir di luar. Kesimpulannya, tentu saja mereka ini pemilik mobil-mobil berkelas itu. Ada yang berjalan, ada pula yang setengah berlari. Beberapa ada yang melangkah bergerombol. Santai tapi berkeringat. Saya bertanya-tanya, pukul berapa mereka yang hampir semua berwajah Tionghoa itu tiba di ITS. Yang jelas sebelum saya. Itu berarti sebelum pukul 05.30. Berarti saya kalah pagi. Pun begitu dengan civitas akademika ITS yang baru datang beberapa menit kemudian, bahkan satu jam kemudian. Saya pun hanya tersenyum.

Matahari masih belum tampak. Malah mendung yang datang menjadi atap stadion. Para pemilik mobil masih terus bergerak mengelilingi lapangan, meski kini hanya berjalan. Mereka berjalan bersama. Tampak keceriaan dari raut-raut mereka. Sesekali mereka tertawa terpingkal. Memberi kesan bahwa mereka menikmati hidup. Karena saya berlari kecil sedang mereka berjalan, saya pun sedikit mencuri dengar saat beberapa kali melewati mereka.  Ternyata apa yang dibicarakan tak jauh dari pekerjaan mereka sebagai pengusaha. Bisnis, bisnis, dan bisnis. Dengan bahasa Jawa Surabaya super medok, mereka saling menceritakan pengalaman, keberhasilan, juga kegagalan.

“Wes sukses iki, kapan bancaan ne?” kata salah satu dari mereka, yang sempet saya dengar.

***
Hari semakin siang. Matahari belum juga terlihat. Tertutup mendung yang tak kunjung menurunkan hujannya. Semakin sejuk memang. Membuat keringat yang keluar tak begitu terasa membakar. Meski demikian, keberadaan matahari di pagi hari jauh lebih menyehatkan.

Segelintir Civitas ITS mulai berdatangan. Dosen, karyawan, mahasiswa, bahkan beberapa alumni mulai ikut ambil bagian di lintasan. Ya, hari sabtu adalah harinya olahraga di ITS. Dibandingkan dengan hari-hari lainnya, terutama Minggu, Sabtu lebih dipilih oleh mereka yang ingin berolahraga, baik itu pagi maupun sore. Tidak ada alasan yang jelas mengapa seperti itu.  Tidak hanya di Stadion, di jalan-jalan kampus pun kita kerap melihat para civitas berjalan atau berlari ringan. Lapangan-lapangan futsal jarang kosong. Pun begitu dengan lapangan basket dan tennis di dekat stadion. Sabtu pagi memang selalu lebih ramai dibanding hari lainnya.

Namun jika kita membandingkan. Jumlah civitas yang berolahraga jauh sangat sedikit dibanding dengan yang tidak. Banyak alasan dikemukakan. Namun saya yakin, untuk mahasiswa mereka lebih senang pulas di kos-kosan. Sabtu memang waktu yang tepat untuk menggelar berbagai macam kegiatan mahasiswa. Tapi ini juga yang terkadang menjadi penghilang waktu untuk berolahraga.

Parahnya, ternyata masih dijumpai kegiatan akademis di hari Sabtu. Sungguh malang mereka yang bernasib demikian. Lalu, siapa yang salah? Atau semua telah benar karena sudah menjadi kebiasaan?

Bagaimanapun juga semua kembali kepada kita. Sempat atau tidak sempat, mereka yang ingin akan selalu menyempatkan waktunya untuk berolahraga. Mereka yang mau selalu mengatur jadwalnya untuk berolahraga. Bukan lagi masalah fasilitas yang bayar atau gratis. Bukan juga ada waktu atau tidak ada waktu. Tapi mau atau tidak mau untuk berolahraga.

***
Stadion sudah ramai. Awan gelap masih menjadi atap. Namun cahaya masih ada dan menunjukkan hari semakin siang. Lintasan pun mulai sesak. Pengusaha-pengusaha Tionghoa pemilik mobil berkelas tadi masih berjalan bergerombol. Membicarakan hal-hal yang mungkin masih sama.

Banyak yang bisa kita temui di stadion ITS pada Sabtu pagi. Setiap yang datang punya gerombolan sendiri-sendiri. Yang datang sendiri, serius menjalani ritualnya mengelilingi lapangan. Yang berkelompok, ada saja yang dibicarakan karena mulut mereka tak pernah terlihat diam.

Ada tim Maritime Challenge yang sedang melakukan latihan fisik rutin. Beberapa alumni yang baru saja wisuda tampak asyik berbincang tentang perusahaan mana saja yang sudah di-apply. Ada Dua tiga dosen yang mungkin sedang membahas mata kuliah di jurusannya masing-masing. Ada tiga empat sahabat duduk beristirahat sambil bercanda tawa. Ada pula sepasang muda mudi yang berlari dalam diam. Mugkin hati mereka saja yang bicara. Yah…semua membicarakan sesuatu. Lari pagi tidak sekedar berlari. Berjalan tidak hanya berjalan. Inilah yang membentuk simfoni indah Sabtu pagi di Stadion ITS. Simfoni yang selalu menarik mereka untuk kembali setiap pekannya.

***
Hujan mulai turun perlahan. Rintik demi rintiknya membasahi stadion yang sebelumnya sudah basah. Karena tidak lebat dan tidak cukup membuat basah badan, pemakai stadion pun terus melanjutkan olahraganya. Kami (saya dan beberapa teman) yang sengaja membawa bola, sedikit mencoba lapangan Stadion. Mencoba salah satu gawang untuk sekedar tendang-menendang di bawah hujan gerimis. Sampai akhirnya terdengar teriakan….

“Mas-mas, jangan disitu!” teriak seseorang di samping tribun sambil mengayunkan tangannya meminta kami keluar lapangan.

Dengan pasrah kami pun menghentikan permainan. Saya pun mendekati sang bapak yang tengah menjemur pakaiannya di pagar stadion.
“Kenapa gak boleh, pak?”
“Lagi hujan mas, gak boleh main di lapangan.”
“Berarti kalo gak hujan boleh dong pak, main di lapangan?"
“Ya harus izin dulu.”
“Berarti kalo sekarang saya izin, boleh dong pak?”
“Bisa mas..kalo nyewa.”

Ah…itu dia intinya batinku.

Bapak yang saya tanyai ternyata penjaga stadion. Legowo namanya. Ia dan istrinya memang tinggal di salah satu ruangan di bawah tribun. Pak Legowolah yang mengurusi stadion ITS. Iseng, saya kembali bertanya.
“Kalo bapak-bapak Tionghoa yang punya mobil itu bayar gak pak, lari pagi di sini?”
“Oh ya, mereka punya perkumpulan sendiri.”
“Berapa pak?”
“Satu juta per bulan.”

Saya pun tak melanjutkan lagi. Pamit pulang mencari sarapan nasi pecel di Keputih. Sarapan setelah olahraga ternyata juga menjadi kebiasaan mereka yang lari pagi di stadion. Saya tak bertanya, satu juta itu per orang atau untuk satu perkumpulan. Saya tidak mau ambil pusing. Yang lebih membuat saya pusing adalah kenapa para mahasiswa ITS masih sedikit yang berolahraga? Minimal lari pagilah. Sudah gratis, kampusnya sejuk, masih saja tidak mau. Seandainya di awal pendaftaran masuk ITS perlu dibebani biaya olahraga satu juta rupiah, mungkin semua mahasiswa ITS mau berolahraga. Karena terkadang kita pun masih berpikir, sayang bayar mahal-mahal kalau gak dimanfaatkan!

Emal Zain MTB
Mahasiswa Teknik Sipil 

Berita Terkait