ITS News

Minggu, 26 Mei 2024
13 Januari 2009, 07:01

Soegiono, Raih Penghargaan Khusus RINA

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Ketika menerima kabar tentang penghargaan itu seminggu yang lalu, ia mengaku kaget. ”Saya senang mendapatkan penghargaan ini. Saya merasa terpacu untuk lebih berperan aktif memberikan sumbangsih untuk dunia kelautan dan perkapalan,” tegas mantan Rektor ITS periode 1995-2003 ini. Tapi menurutnya, ia merasa belum banyak mengabdi untuk ITS atau RINA itu sendiri. Ia hanya mengatakan bahwa ia sudah bekerja di ITS selama 44 tahun. “Kalau mengabdi itu, kesannya saya sudah luar biasa berkontribusi bagi ITS atau ilmu perkapalan,” ujarnya merendah.

Tapi dedikasinya pada ITS khususnya Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) tidak bisa dilupakan begitu saja. Kehadiran FTK ITS tidak lepas dari usahanya dan beberapa teman-teman dosen ketika itu. Berkat akreditasi dari RINA juga, FTK ITS kini telah sejajar dengan Fakultas Kemaritiman lainnya di berbagai negara. Seperti diantaranya University of Newcastle Upon Tyne, University of Southampton, dan University of Stratchlyde yang semuanya dari United Kingdom. Wajar, kiblat kemaritiman dunia khususnya perkapalan memang berada di Inggris.

Ketika bercerita mengingat pengalamannya dulu, Soegiono tersenyum haru. Tahun 1983, ia pergi ke Inggris atas undangan British Council sebagai Dekan FTK. Disanalah awal ia berinteraksi dengan anggota RINA yang kebanyakan memang dari Inggris. Ia harus bersusah payah meyakinkan beberapa pimpinan universitas top dalam bidang maritim di Inggris untuk menjalin kerjasama dengan ITS khususnya FTK.

Ia lakukan dari pintu ke pintu memperkenalkan diri. Ketika itu, banyak dari mereka yang memandang remeh. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya. “Saya sampai pernah menunggu di luar berjam-jam sebelumnya akhirnya diizinkan masuk,” ujarnya sambil tertawa. Usahanya tidak sia-sia, beberapa dosen langsung mendapat beasiswa ke universitas-universitas tersebut.

Disamping itu, ia juga menyempatkan berkunjung ke pusat RINA di London. Tujuannya mendapatkan akreditasi atau pengakuan dari organisasi profesi kemaritiman terbesar di dunia itu. Gayung pun bersambut, segera setelah itu FTK mendapat kunjungan dari Prof J B Caldwell, salah satu ahli teknologi perkapalan yang sangat disegani di Inggris. Kedatangannya untuk memeriksa kelayakan FTK ITS mendapat akreditasi dari RINA. RINA memang tidak sembarangan dalam memberikan akreditasinya.

Beberapa yang diuji antara lain fasilitas, kualitas dosen, mahasiswa dan alumninya, serta kerjasama dengan pihak industri. Bahkan, semua soal-soal ujian pun dicek kelayakannya. “Alhamdulillah, tahun 1990 kami (FTK, Red) mendapatkan pengakuan dunia,” ujar Soegiono. Semenjak itulah alumni-alumni FTK ITS dengan mudah menyebar ke banyak negara.

Ketika itu ia mengaku agak nekat. “Saya hanya bermodal trust kepada mereka,” tambah penerima Bintang Jasa Utama RI ini. Indonesia masih dipandang sebelah mata dalam bidang teknologi. Beruntung, sebelumnya FTK ITS pernah menjalin kerjasama dengan beberapa Universitas di Jerman. “Dari sana aksesnya bisa dipermudah,” pungkasnya.

Sekarang ia menjabat sebagai Chairman RINA Indonesia Branch sejak pertama kali berdiri tahun 2005. Sudah lebih dari 150 anggota yang bergabung didalamnya. Selain sebagai wadah diskusi para ahli perkapalan. RINA juga membuat beberapa jurnal ilmiah untuk mendukung kemajuan ilmu perkapalan itu sendiri. Beberapa tahun terakhir ITS pun sering dikunjungi oleh pejabat dari RINA untuk memberikan kuliah tamu.

Selepas pensiunnya Desember kemarin, Soegiono berharap agar ITS mampu mempertahankan kepercayaan dari RINA ini. “ITS harus semakin unggul dan bermanfaat bagi masyarakat,” tambah guru besar Ilmu Teknik Perkapalan ini. Baginya, pendidikan harus berguna bagi masyarakat. Bukan hanya sekedar mencari akreditasi. ITS juga harus lebih bisa memilih kualitas mahasiswa yang masuk dari proses seleksi yang diadakan. Menurutnya, hal itu berpengaruh pada kualitas ITS sebagai institusi. (bah/fay)

Berita Terkait