ITS News

Jumat, 24 Mei 2024
17 Juni 2008, 20:06

36 Persen Penduduk Tidak Punya Akses Keuangan

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Senin (16/6) kemarin, perwakilian dari Bank Dunia berkunjung ke ITS untuk mengungkapkan survei temuannya terkait akses keuangan. Bersama
dnegan Srinivas, ahli ekonom keuangan utama Bank Dunia, Clarita
mengungkapkan bahwa sebenarnya akses ini sangat diperlukan rakyat, terutama menengah ke bawah. "Sebenarnya akses keuangan ini sangat dibutuhkan bagi mereka, seperti para Imigran untuk mengirim uang dan pemilik UKM (Usaha Kecil Menengah, red) juga mampu meminjam
dana," jelasnya

Padahal, kata Clarita, akses pada jasa keuangan seharusnya dapat juga dirasakan oleh pihak ekonomi lemah. "Umumnya, pada negara berkembang, akses tersebut hanya menjangkau usaha besar dan keluarga kaya. Namun, kurang pada usaha kecil dan keluarga miskin," tandasnya. Oleh karena itu, kini Bank Dunia sedang melakukan riset analisa terkait tentang masalah yang menghambat pelayanan keuangan ini. "Harus dicari data yang tepat, siapa yang butuh akses dan menganalisa hambatan tersebut," tambahnya.

Hal inilah yang mendorong Bank Dunia melakukan survei akses keuangan rumah tangga. Sejak tahun lalu, survei ini telah menjaring responden sebanyak 3360 rumah tangga yang tersebar di 10 provinsi dan 112 Kabupaten Indonesia. Dari Survei yang telah dilakukan, Clarita mendapatkan beberapa data yang mengejutkan yaitu masih rendahnya akses pelayanan keuangan. "Sekitar 36 % dari Populasi Penduduk Indonesia tak tersentuh akses terhadap lembaga keuangan manapun," tukasnya. Ia menambahkan, hingga saat ini akses perbankan bahkan hanya bisa dinikmati kurang dari separo populasi. "Bank hanya melayani 35.92% saja," ungkapnya.

Dari hasil analisa tersebut, ternyata pendapat responden soal akses bank belum memudahkan bagi kaum ekonomi lemah. "Dari sekitar 66 % responden mengatakan bahwa mereka harus menunggu selama satu jam sebelum mendapatkan pelayanan. Dan lebih dari 67% mengaku harus rela mengeluarkan uang sebesar 6000 untuk pergi ke Bank terdekat," jelas Clarita panjang lebar. Hal inilah yang menurutnya menjadi hambatan bagi kaum ekonomi lemah. "Bagi kita mungkin 6000 rupiah tak seberapa, tapi bagi mereka itu berarti!," komentarnya.

Selain itu, Bank Dunia pun mendapatkan data bahwa masyarakat lebih suka meminjam pada teman atau tetangga. "Banyak yang ternyata belum memanfaatkan layanan bank untuk menyimpan uang. Masih sekitar36% rumah tangga Indonesia yang memiliki tabungan," paparnya.

Melihat hasil data tersebut, Srinivas, ahli ekonom keuangan utama Bank Dunia mengatakan bahwa Indonesia bisa berkaca pada Afrika Selatan. "Dulu, Afrika Selatan juga begini, masyarakat kurang merasakan akses pelayanan keuangan. Namun pemerintah mengambil kebijakan dengan mengurangi biaya pelayanan dan mempermudah akses," ceritanya. Oleh karena itu, Imbuh Srinivas, kini pemerintah diharapkan mampu menyusun produk layanan keuangan yang inovatif untuk semua kalangan. "Hasil Survei ini memang kami harapkan bisa membantu pemerintah dalam mengambil kebijakan," pungkasnya. (yud/th@)

Berita Terkait