ITS News

Senin, 17 Juni 2024
25 Januari 2006, 09:01

Dosen ITS Kenalkan Sari Air Laut untuk Kesehatan

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Potensi air laut yang melimpah ruah dan tak pernah terpikirkan untuk dimanfaatkan telah memberikan inspirasi bagi Prof Ir Judjono Suwarno untuk melakukan penelitian. Kini penelitian yang dilakukan sejak tahun 2000 itu telah membuahkan hasil, yang diberinama sari air laut.

“Nama itu saya ambil karena memang air yang saya hasilkan ini benar-benar dari air laut. Orang menyebutnya air tuah, air yang didapat dari penguapan air laut didalam pembuatan garam. Di atas endapan garam dalam proses pembuatan garam di tambak-tambak itulah bahan baku sari air laut ini saya temukan,” kata guru besar bidang reactor kimia ini saat ditemui Selasa siang (24/1).

Selama ini, katanya, air tuah oleh masyarakat tambak pembuat garam, hanya dijadikan sebagai bibit untuk membuat garam lagi, karena memang konsentrasi garamnya cukup tinggi, kemudian sisanya dibuang ke laut. “Dari penilitian yang saya lakukan ternyata air tuah itu cukup banyak manfaatnya, dan bahkan konsentratnya di Jepang dijual cukup mahal, seharga 9,9 dolar per 200 mililiter,” katanya.

Itu sebabnya, ia pernah menjumpai ada orang-orang yang karena ketidaktahuannya kemudian menjual air tuah itu kepada orang asing dan oleh orang asing itu kemudian diekspor. “Sekarang dari hasil penelitian ini ternyata air tuah itu cukup banyak manfaatnya, mulai untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah, mengganti kulit-kulit yang rusak, mencegah osteoporosis hingga memperkuat kerja otot jantung,” katanya.

Di Jepang, ungkap Judjono, konsentrat air tuah ini disebut air nigari atau bittern,/i> yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan tidak hanya untuk kesehatan tapi juga untuk bahan pembuat tofu (tahu Jepang).

Apa saja kandungan mineral yang terdapat dalam sari air laut sehingga sedemikian banyak manfaatnya? Dari penelitian yang dilakukan suami dari Drg Sukartijah ini, ia menemukan mineral-mineral seperti magnesium sulfat (MgS04), Natrium Chlorida (NaCl), Magnesium Chlorioda (MgCl2) dan Kaslum Chlorida (KCl).

“Mineral-mineral yang paling berguna untuk tubuh adalah magnesium (Mg). Dalam literatur ternyata unsur Mg sangat dibutuhkan oleh tubuh, dalam sehari tubuh kita butuh antara 360-420 mg. Jumlah itu ternyata tidak bisa terpenuhi seluruhnya. Kalaupun kita makan buah-buahan dan sayur-sayuran paling banyak hanya terpenuhi antara 250-280 mg per hari. Kekurangan itulah yang bisa ditopang dengan sari air laut,” kata laki-laki kelahiran Jogjakarta, 1 Januari 1939 ini.

Diungkapkannya, penelitian yang dilakukannya sebenarnya berawal dari keingintahuan Pemprov Jatim tentang berapa produksi garam yang bisa dicapai oleh propinsi ini di sentra-sentra pembuatan garam di Madura yang meliputi, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. “Dari penelitian itu kami memperoleh kesimpulan bahwa untuk menghasilkan 1 ton garam, maka dibutuhkan 50 meter kubik air laut dan menghasilkan 1,9 meter kubik air tuah,” katanya.

Di tengah-tengah penelitian itulah kemudian Judjono mengembangkan penelitian lanjutan untuk memanfaatkan air tuah, yang kini ternyata memiliki dimanfaatkan yang jauh lebih besar dan bernilai lebih dibanding dari garam yang dihasilkan.

Apa langkah selanjutnya yang akan dilakukan Judjodo? Penelitiannya itu sejak Agustus tahun lalu sudah diajukan untuk memperoleh paten. Selain itu, melalui kajian ekonomi, pihak PT Pantja Wira Usaha Jatim, telah memberikan lampu hijau untuk diproduksi secara pabrikasi. “Memang yang dilakukan ini masih dalam kapasitas laboratorium, tapi saya yakin bisa diproduksi untuk kepentingan pabrikasi dengan hasil yang lebih besar lagi. Beberapa perusahaan air minum dalam kemasan pun sudah meminta sari air laut ini untuk dijadikan tambahan dalam air minumnya, sehingga menjadi air mineral,” katanya.

Ia juga sedang menyiapkan hasil penelitiannya itu untuk dikomersialkan, mengingat begitu banyak manfaat yang bisa diperoleh dari sari air laut itu. “Saya juga sudah meminta bantuan dari seorang dosen di Dispro ITS untuk membuatkan merk dan kemasan supaya layak jual,” katanya.

Memang dalam uji coba yang telah dilakukan, tiga tetes sari air laut itu telah mengubah rasa air minum dalam kemasan berukuran 240 ml, berasa seperti air zam-zam. “Bagaimana pengaruhnya memang masih dalam tahap penelitian berikutnya, dan kini kami sedang melanjutkan ke arah pemeriksaan medis atau farmakologis di fakultas farmasi. Tapi kami yakin manfaatnya cukup banyak, karena di luar negeri konsentrat ini sudah diperjual belikan dengan harga cukup mahal,” katanya. (Humas/rin)

Berita Terkait