ITS News

Sabtu, 18 Mei 2024
07 Januari 2006, 10:01

Tim ITS-Jember : Kemungkinan Longsor Susulan Cukup Besar

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kemungkinan bakal terjadinya longsor susulan di sekitar lokasi bencana banjir lumpur di Jember, menjadi perhatian tim dari ITS Surabaya. Ini karena lokasi longsor yang menyebabkan banjir lumpur beberapa hari lalu itu masih berada di bagian bawah, sehingga lokasi yang berada di atas atau puncak sangat boleh jadi masih dalam keadaan tidak stabil dan tinggal menunggu waktu untuk terjadi longsor susulan.

Demikian diungkapkan Ir Amien Widodo MS, Ketua Pusat Studi Bencana ITS, yang Jumat siang (6/12) baru kembali dari Jember. “Kami meminta masyarakat untuk mewaspadai gejala-gejala akan terjadinya longsor. Tentu ini bukan saja bagi masyarakat yang di daerahnya kini telah terjadi longsor, tapi juga kawasan yang memang rawan akan terjadinya longsor,” katanya.

Karena itulah, Pusat Studi Bencana ITS, kini telah menyiapkan brosur yang berisi tentang bagaimana mendeteksi awal akan terjadinya longsor, cara-cara penyelamatan dan beberapa panduan lain yang dikemas dalam satu judul Bersahabat dengan Longsor. “Ini kami buat agar masyarakat paham dan selalu waspada, sehingga jika ada longsor tidak memakan korban jiwa,” katanya.

Amien menjelaskan, sebenarnya penduduk setempat bisa mengamati dengan kasat mata akan tanda-tanda awal terjadi longsor, seperti munculnya retakan-retakan tanah, pohon yang tumbuh tidak normal, pohon yang terangkat dan terlihat akarnya. ”Kalau ada tanda-tanda seperti itu pengamatan harus dilakukan terus menerus, sehingga diketahui perubahan tiap saat, kalau perkembangan cukup besar, maka segera lapor pihak yang berwenang untuk dikonsultasikan dan segera dilakukan perbaikan,” katanya.

Amien juga mengungkapkan tentang perlu diwaspadainya daerah-daerah di sekitar lereng Gunung Wilis, Gunung Argo Wayang di sebelah barat Gunung Welirang, dan sekitar Gunung Argopuro. ”Daerah-daerah ini sangat boleh jadi akan terjadi longsor, manakala pemicunya cukup besar untuk mempercepat terjadinya longsor. Pertimbangannya di daerah-daerah itu usia tanah hasil pelapukan sudah jutaan tahun, sehingga sudah pada kondisi yang tidak lagi kuat terikat pada batuan,” katanya.

Pada kondisi itu, katanya, terjadinya longsor tinggal menunggu waktu. ”Ada beberapa faktor alam yang mempercepat terjadinya longsor, seperti hujan deras yang berlangsung lama; getaran gempa; perubahan vegetasi karena kebakaran hutan, dan angin ribut yang menyebabkan rusaknya hutan; longsoran yang menumpuk dan membebani di lereng; serta pemotongan lereng bagian bawah akibat erosi sungai; dan adanya gua bawah tanah yang runtuh,” katanya.

Selain faktor alam, faktor manusia juga dapat mempercepat terjadinya longsor seperti adanya penebangan hutan dan pembakaran hutan, adanya penambahan beban pada lereng, misalnya pengurukan untuk perataan perumahan, atau penumpukan sampah, pemotongan lereng di bagian bawah seperti adanya penambangan, pelebaran jalan, pelebaran rumah dan lain-lain. ”Dalam kasus di Jember, secara pasti saya belum dapat menentukan apa penyebab pastinya. Tapi secara geologis itu terjadi karena tanah hasil pelapukan memang usianya sudah jutaan tahun, sehingga tidak lagi mampu bertahan, dan itu sesungguhnya terjadi secara alamiah,” katanya.

Amien sendiri tidak sependapat jika musibah yang terjadi di Jember itu semata-mata karena akibat penggundulan hutan, karena secara teoritis, ketika pohon ditebang dan masih meninggalkan akar, tidak serta merta akarnya akan mati dan terjadi pelapukan, masih dibutuhkan waktu sekitar 10-15 tahun lagi menjadi busuk. ”Atas dasar itu saya belum dapat memastikan penyebab pasti musibah yang terjadi di Jember itu. Konsentrasi saya sebagai Kepala Pusat Studi Bencana saat ini bagaimana masyarakat sadar akan segala kemungkinan terjadinya longsor di sekitar mereka. Karena itulah saya akan memperbanyak poster atau selebaran berjudul Bersahabat dengan Longsor ini agar bisa dipahami oleh masyarakat. Silahkan mereka yang menginginkan akan kami beri,” katanya. (Humas/rin)

Berita Terkait