ITS News

Senin, 15 Agustus 2022
22 Desember 2005, 19:12

Fahmi Basya : Kita selalu Dibombardir dengan Angka 19

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Bertempat di ruang seminar Rektorat ITS lantai 3, Kamis (22/12), Fahmi Basya menjelaskan konsep temuannya yang diberi nama Matematika Islam. Fahmi begitu panggilan akrabnya, memang sengaja diundang khusus oleh ITS untuk tampil sebagai pembicara dalam Studium General bertema Matematika Islam : Sebuah Pendekatan Rasional Melalui Sains. Acara yang dihadiri puluhan mahasiswa ITS dan beberapa dosen ini cukup memberikan wacana baru kepada kalangan civitas akademika ITS. Temuan-temuan yang dipaparkan Fahmi diantaranya, Kimia Islam, Fisika Islam, dan Matematika Islam.

Sebagai permulaan Fahmi memberikan gambaran bahwa sesungguhnya di dalam Al-Quran terkandung rahasia-rahasia yang harus dipikirkan oleh umat manusia. Salah satunya adalah rahasia angka dalam Al-Quran. Lebih spesifik lagi, Fahmi menjelaskan bahwa angka yang paling sering banyak muncul di dalam Al-Quran adalah angka 19. “Ternyata kita selalu dibombardir dengan angka 19,” tandasnya. Dikatakan Fahmi lebih lanjut, angka 19 sendiri didapat dari berbagai perhitungan, salah satunya adalah jumlah dari bacaan basmalah yang berjumlah 19 huruf. “Maka dapat disimpulkan bahwa 19 adalah sebuah aksioma dalam Al-Quran,” kata pria yang lahir pada 3 Februari ini.

Tidak cukup sampai disana, Fahmi juga mengajak hadirin menelaah rahasia dari gerakan sholat. Dalam presentasinya, alumnus FMIPA UI ini memperlihatkan hubungan antara gerakan sholat gerhana dengan posisi gerhana. Dari sana didapatkan bahwa ruku dapat didefinisikan sebagai gerakan 90 derajat. Jika ruku adalah 90 derajat, sujud adalah 135 derajat, dan berdiri tegak adalah nol derajat, maka dalam satu rakaat kita telah menyelesaikan satu putaran penuh atau 360 derajat. “Dalam sholat mayit tidak ada ruku dan sujud sebagai simbol dari tidak adanya gerakan,” Fahmi menjelaskan.

Rahasia sholat lainnya juga diperlihatkan oleh Fahmi, yaitu bacaan takbir yang diucapkan pada 29 kali shalat tarawih dan witir ditambah sholat Ied maka akan ditemukan bilangan 1786 yang jika dibagi 19 adalah 94. Menariknya, angka 94 itu adalah jumlah kalimat takbir dalam lima kali sholat dalam sehari. Bagi Fahmi, riset yang mendalam terhadap fenomena-fenomena menarik ini akan dapat memperkuat rasa iman kita kepada Allah.

Monumen Al-Quran di ITS

Saat ini Fahmi Basya adalah seoarang dosen Matematika di fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah. Padahal awalnya Fahmi hanya menjajakan ide cemerlangnya ini melalui berbagai selebaran, seminar, dan stadium general. Baru mulai tahun 2002 idenya dipakai sebagai salah satu mata kuliah di UIN Syarif Hidayatullah. Bahkan, beberapa waktu terakhir Fahmi diminta sebagai penceramah untuk mengenalkan konsep Matematika Islam di sebuah stasiun televisi swasta. Fahmi pun telah meluncurkan buku pertamanya yang diberi judul Matematika Islam. Awalnya, Fahmi mempublikasikan karyanya dalam bentuk slide presentasi yang dapat diakses secara digital. Karya-karya digitalnya ini diberi judul flying book.

Satu hal menarik yang patut dicatat, dalam studium general kali ini Fahmi juga menawarkan konsep monumen Al-Quran untuk ITS. Monumen itu dihasilkan dari proses pemecahan bilangan jumlah ayat-ayat Al-Quran menjadi pecahan ratusan, puluhan, dan satuan. Dari pecahan inilah akhirnya dijadikan satuan ukur yang mempengaruhi tinggi rendahnya menara. Fahmi percaya bahwa nantinya orang yang melihat monumen ini akan mendapatkan pahala.

Fahmi berargumen bahwa orang yang mendengarkan Al-Quran saja mendapatkan pahala seperti orang yang membacanya. Maka jika kita membangun monumen ini, sama saja kita memvisualisasikan Al-Quran yang ujungnya adalah siapa yang melihatnya akan mendapatkan pahala. (ap/asa)

Berita Terkait