Ditemui di sela-sela jam kuliahnya, Senin (12/9) pagi, Harsi mengemukakan bahwa sebenarnya sektor masyarakat menyumbang 66 persen dari total sampah. Penanganan sektor domestik ini dengan baik maka kebersihan lingkungan dapat terjaga. Dan untuk mengolah sampah dari sektor ini haruslah diadakan perubahan sosial terlebih dahulu.
Perubahan sosial tersebut berarti mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sampah dengan baik dan benar. Penyuluhan dan pembentukan komunitas sadar sampah akan sangat membantu. ”Seperti di Gebang ada tulisan imbauan kepada masyarakat untuk mendaur ulang sampahnya, hal ini sangat membantu” ujar alumnus SMUN 2 Lumajang ini.
Namun sayangnya, penyuluhan tersebut ternyata tidak banyak menimbulkan perubahan di masyarakat. Faktor penghambatnya menurut Harsi, adalah minimnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungannya. Terlebih beragam pemikiran yang ada di masyarakat Indonesia sehingga keseragaman visi tidak dapat dicapai.
Harsi kemudian membandingkan dengan kondisi masyarakat Korea. Di negeri ginseng ini masyarakatnya tidak beragam dan semua secara bulat memiliki kesadaran akan pengolahan sampahnya. Kondisi zero waste atau tidak adanya sampah yang tidak terkelola sudah tercapai di sana.
Merubah pemikiran bangsa ini ke arah yang lebih baik ternyata sangat memerlukan peran dari para tokoh agama. ”Kondisi masyarakat kita masih tunduk-patuh kepada tokoh agama. Masih sendiko dawuhcostumer
Kampus ITS, ITS News — Tim dari mahasiswa Departemen Teknik Biomedik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menghadirkan inovasi
Kampus ITS, ITS News – Bukan sekadar sebagai pemandu wisata, pelajar di Kecamatan Tosari, Probolinggo kini disiapkan menjadi duta
Kampus ITS, ITS News — Untuk lebih mengenalkan diri ke masyarakat luas, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menggelar kegiatan
Kampus ITS, ITS News — Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil meraih juara 1 dalam mengembangkan kecerdasan buatan