ITS News

Minggu, 14 Agustus 2022
13 September 2005, 09:09

Triwulan: Tingkatkan Nilai Ekonomis Limbah

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

ITS akan ketambahan dua guru besar, salah satuya adalah Triwulan dari jurusan Teknik Sipil. Triwulan akan dikukuhkan bersamaan dengan Prof Bangun Muljo Sukojo dari Teknik Geodesi melalui Rapat Terbuka Senat ITS di Graha Sepuluh Nopember, Selasa (13/9).

Triwulan memang merupakan sosok dosen ITS yang dikenal gemar meneliti limbah industri. Hal itu dibuktikan dengan puluhan penelitian dan publikasi ilmiahnya yang kesemuanya menilik penggunaan limbah industri sebagai campuran bahan bangunan. Dan sekarang, berkat kerja kerasnya itu Ia diangkat sebagai guru besar di bidang mekanika bahan yang pertama di FTSP ITS.

Dikatakan wanita berjilbab kelahiran Madiun, 9 Maret 1951 ini, awal ketertarikannya di bidang mekanika bahan dikarenakan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Kondisi seperti daerah lepas pantai itu, menurut Triwulan tak terlepas dengan lingkungan agresif yang dapat merusak suatu bangunan beton. ”Maka dari itu saya termotivasi untuk membuat struktur beton berdurabilitas tinggi terhadap pengaruh agresif itu,” kata Triwulan yang dalam orasi pengukuhannya akan membawakan tema Pemanfaatan Limbah Industri sebagai Material Admixture Beton.

Keinginan ibu dua anak ini didukung dengan kondisi negara yang sedang berkembang. Dimana banyak industri yang berlomba-lomba memproduksi dan tentunya menghasilkan banyak limbah. Limbah-limbah industri yang dikatakan industri tidak punya nilai ekonomis seperti fly ash, copper slag, abu sekam, dan abu ampas tebu kerap dijadikan bahan campuran beton dalam penelitiannya. ”Dengan pemakaian limbah pada campuran beton maka ada dampak ganda positif. Meningkatkan durabilitas beton serta kebersihan lingkungan,” kata lulusan sarjana ITS Teknik Sipil tahun 1975 ini.

Namun, lebih lanjut dikatakan Triwulan, di Indonesia saat ini belum banyak penelitian dan penggunaan bahan bangunan dengan campuran limbah industri. ”Hanya ITS dan ITB yang getol melakukan penelitian penggunaan limbah untuk campuran beton. Kita masih ketinggalan banyak, padahal di luar negeri penggunaannya sudah luas,” kata doktor lulusan Institute Nationale Des Sciences Appliquees de Lyon, Perancis tahun 1990 ini.

Untuk limbah yang paling sering digunakan sebagai campuran, dikatakan Triwulan ada dua yaitu fly ash, limbah dari hasil pembakaran batu bara dan copper slag, limbah dari industri PT. Smelting. Keduanya dinilai industri tidak memiliki nilai ekonomis lagi. Di Indonesia keberadaan kedua limbah itu sangat melimpah. Di PLTU Suralaya dan Paiton saja menghasilkan fly ash dua juta ton per tahun serta 30.000 ton per tahun untuk copper slag. ”Kedua limbah itu sangat baik untuk campuran beton bertulang karena memiliki sifat pozzolanic yang dapat melindungi tulangan beton dari korosi, akibat lingkungan agresif,” kata dosen yang terkenal tegas dan disiplin di kalangan anak didiknya ini.

Pengunaan kedua limbah itu, dari hasil penelitian Triwulan, untuk fly ash jika dipakai sebagai campuran beton bisa meningkatkan kuat tekan beton dengan prosentanse campuran kurang lebih 10 persen dari berat semen Portland. Untuk meningkatkan durabilitas, dipakai pronsentase campuran fly ash sebanyak 30 persen dari berat semen Portland. Kehalusan fly ash juga berpengaruh, semakin halus akan semakin bagus reaktivitasnya dan tahan di lingkungan agresif.

Sedangkan untuk copper slag akan efektif sebagai campuran beton dengan takaran 20 persen dari berat semen. Limbah ini juga efektif untuk agregat halus pada campuran yang memakai 40 persen dari berat pasir total. ”Maka terbukti dengan penggunaan campuran limbah ini life time struktur beton di Indonesia akan semakin lama. Jadi, siapa bilang limbah tak punya nilai ekonomis,” kata Triwulan menyimpulkan seraya tersenyum. (asa/tov)

Berita Terkait