ITS News

Senin, 15 Agustus 2022
02 September 2005, 17:09

Tim Askaf-i: Teknologi Kita Tidak Kalah dengan Mereka

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Tim Askaf-i yang terdiri dari lima mahasiswa PENS ITS telah tiba di tanah air, sejak 27-28 Agustus yang lalu setelah mengikuti Asian Pasific Broadcasting Unit (ABU) Robocon, di Beijing-China. Tim yang digawangi Adnan Rahmat Anom Bestari, Sigit Hardiyono, Kristian Ari Prasetyo, Arif Zuantoro serta Fuad ini, Kamis (1/9) siang, di aula gedung PENS ITS membagi pengalaman mereka selama di China, pada mahasiswa baru (maba) PENS ITS.

Sigit Hardiyono, selaku ketua tim Askaf-i, pertama-tama memaparkan mengenai tim beserta robot Askaf-i yang mereka bawa ke Beijing. Presentasinya menarik ini disertai rekaman video selama di Beijing, sukses menarik minat 450 adik-adik baru mereka. Tujuannya memang untuk membakar semangat maba 2005 agar punya persiapan untuk berlaga di kontes serupa. Dikatakan Sigit teknologi Askaf-i di ABU Robocon 2005 tidaklah kalah dengan robot dari negara lain. ”Hanya saja strategi kita kurang dari mereka,” ungkap Sigit.
Seperti diberitakan, pada kontes robot internasional di Cina itu, Tim Robot ITS harus melawan 20 tim robot lain dari 19 negara. Saat di perdelapan final memang lawan yang ditakuti ITS adalah tim Jepang. Naasnya, setelah berhasil mengalahkan tim Nepal, ITS harus berhadapan dengan Tim University of Tokyo, Jepang. Dan, Tim ITS akhirnya kalah dengan skor 47 lawan 23.

Kekalahan Askaf-i dengan Jepang, dikatakan Sigit, kemungkinan ada beberapa faktor yang mempengaruhi. ”Pertama karena robot otomatis di tengah kita tidak berfungsi, padahal jika memasukkan bola ditengah dihitung lima poin. Kita hanya mengandalkan robot manual yang hanya satu poin jika masuk,” ungkapnya. Padahal saat itu tim Jepang memakai strategi robot tengah dan tidak menggunakan robot manual dan blocker.

Mandulnya robot tengah itu, dikatakan mahasiswa kelas tiga PENS ITS ini dikarenakan ada perbedaan tinggi karpet vinil lapangan tengah. ”Lapangan tengah disana lebih tinggi dua milimeter dari desain awal yang sudah kita buat berdasarkan ketentuan awal,” kata sigit.

Ditambahkan Sigit, melihat perbedaan itu timnya telah berusaha memodifikasi dan mendesain ulang. Tapi, setelah selesai, tim ternyata kehabisan waktu saat running test di lapangan karena hanya diberi waktu satu kali 12 menit. ”Waktu itu sedikit sekali, dan kita tidak memperkirakannya. Biasanya di kontes robot international lain lebih lama. Jarak antara pitstop ke arena pun sangat jauh, sekitar 200 meter,” ungkap calon wisudawan ini.

Hal itu dibenarkan, Ir Gigih Prabowo, mantan dewan juri KRI 2005 dari PENS ITS yang mendampingi tim Askaf-i selama di Beijing. Dikatakan Gigih, memang peraturan di ABU Robocon 2005 ini banyak yang berubah mendadak dan berbeda dengan kontes robot international sebelumnya.

”Selain waktu running test ada perbedaan lain seperti robot otomatis hanya diperbolehkan memblokir setengah daerah manual dan daerah pertandingan dibagi dalam 3 zone yaitu zona merah, tengah, dan pusat. Robot tim merah pun tidak boleh masuk daerah biru sebelum 20 detik. Pembagian itu dimaksudkan agar robot manual tidak saling berbenturan,” papar Gigih.

Pertandingan ITS dengan University of Tokyo Jepang ini jika ditilik ulang sejarahnya merupakan pertandingan kedua setelah ITS dengan robot B-Cak tampil sebagai juara di kontes robot di Jepang. Dan kali inipun ITS dengan Askaf-i telah berjuang dengan maksimal dan berhasil memboyong gelar best artistic design award.(asa/rin)

Berita Terkait