Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) mengandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (LPPM-ITS) untuk menggelar penataran dan lokakarya (penlok) metodologi penelitian tahun 2005, selama dua hari hingga Rabu (31/8) kemarin. Sekitar 50 undangan dari berbagai instansi se-Jawa Timur memadati acara yang bertempat di lantai dua Gedung Rektorat ITS ini.
Dr Ir Agus Windharto DEA, salah seorang pembicara, memaparkan lebih dalam mengenai kiat-kiat dalam memperoleh pendanaan Riset Andalan Perguruan Tinggi dan Industri (RAPID). Untuk menjelaskan materi ini kepada peserta, Agus menceritakan pengalaman tentang kesuksesannya mendapatkan dana program penelitian RAPID yang baru saja diperoleh.
Proposal yang ditawarkan Agus berjudul Rancang Bangun E-KIOSK Multimedia untuk Pelayanan Informasi Masyarakat. “Tujuannya untuk memberikan info kepada masyarakat, aspek sosial sekaligus sebagai komersial aspek, “ jelas Agus mengawali. Menurutnya, masyarakat Surabaya sebagian besar adalah lulusan SD, sehingga dapat dianggap 40 persen mereka gaptek (gagap teknologi,-red). Pertimbangan inilah yang berani diambil Agus untuk mengajukan proposal.
Lebih lanjut, ide ini- Agus lebih sering menyebutnya sebagai electronik kios- telah terealisasi. “Sudah ada di Plaza Tunjungan,” katanya. Dosen ITS ini menegaskan suatu nilai yang tidak kalah penting dalam menentukan kesuksesan penelitiannya. “Estetika itu penting, jangan buat biasa kayak kaleng, ubah keluarannya jadi cantik, karena cantik itu magnet,” tandas pria berperawakan tinggi ini.
Disamping itu, yang lebih penting, kios miliknya menjual informasi yang dibutuhkan. “Seperti Perguruan Tinggi dan Organisasi yang menjual info,” ujar Agus memberikan analog. Sehingga output yang telah ia didapatkan berupa keberhasilan prototipe dan jaringan partner industri.
Kemudian, Agus pun meyakinkan peserta bahwa dalam jangka waktu dua tahun mendatang, semua akan beralih ke mesin yang berbasis IT, utamanya aspek produksi. “Hanya KKN saja yang tidak nggak pake mesin,” komentarnya dengan nada guyon hingga membuat ramai peserta.
Keinginan Agus ke depan adalah membuat elektronik kios di bandara. Di luar negeri, sistem ini sudah diterapkan. “Di bandara luar negeri, nggak ketemu pramugari cantik, di sana malah ketemu mesin,” katanya. Artinya, semua keperluan paspor serba ditangani dengan mesin elektronik yang serba otomatis. Jika proyek ini terealisasi, Agus meyakinkan ada satu keuntungan lagi yang didapat. “Jangan khawatir, telepon umum akan gratis, untuk info call center atau apa saja akan digratiskan,” ungkapnya optimis. (th@/rin)
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus membuktikan eksistensinya pada kompetisi tingkat nasional. Gagas inovasi
Kampus ITS, ITS News – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar servis sepeda motor gratis bagi teknisi pembaca meter
Tuban, ITS News – Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) turut mendukung percepatan digitalisasi sektor pertanian melalui
Kampus ITS, ITS News — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam