ITS News

Kamis, 18 Agustus 2022
01 September 2005, 09:09

Awali Lustrum, ITS Gelar Kolaborasi ’Kanjeng Leo’

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Mengawali kegiatan lustrum ke-9 yang jatuh pada 10 November 2005, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akan menggelar pentas kolaborasi bertaujuk Kanjeng Leo Tidak Percaya, Senin (5/9) mendatang. Pentas kolaborasi ini merupakan rangkaian untuk menandai dibukanya berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan sepanjang empat bulan hingga Desember 2005. ”Pentas ini selain untuk menandai berbagai kegiatan Lustruk ke-9 ITS juga merupakan pentas kontemplasi dari berbagai anomali yang kini terjadi di Indonesia,” kata Drs Darmadji MSi, Rabu (31/8) siang.

Dikatakannya, pentas Kanjelang Leo Tidak Percaya ini akan menampilkan kolaborasi kelompok musik Kiai Kanjeng pimpinan budayawan Emha Ainun Nadjib dengan penyanyi balada Leo Kristi. ”Pertunjukkan ini merupakan pertunjukkan pertama di Jawa Timur dan ketiga setelah sebelumnya digelar dua kali di Jakarta. Kami berharap pertunjukkan ini dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat yang selalu berada didalam ketidakpastian dan selalu terpinggirkan dalam berbagai anomali yang kini terjadi di Indonesia,” katanya.

Menurut Darmaji, anomali itu salah satunya tentang keadaan bangsa ini yang dikatakan ramah, santun dan beradab, tapi pada kenyataannya terkadang terlihat beringas, berbagai kekerasan terjadi dimana-mana dan dilakukan oleh siapa saja tidak pandang pangkat, jabatan dan status. ”Ini sebuah anomali yang akan coba diangkat dan disampaikan dalam pentas itu,” katanya.

Di Jakarta, kata Darmaji, saat pentas Kanjeng Leo Tidak Percaya di Kampus Paramadina diawali dengan lagu anak-anak berirama riang yaitu Gundul Pacul. Lagu itu, menurut pemimpin komunitas Kyai Kanjeng, Emha Ainun Nadjib, tidak sekadar untuk meriangkan anak-anak, tetapi mengandung pesan politik. ”Jangan punya karakter gembelengan, bermain-main, tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan dengan substansinya,” kata Darmaji mengutip pernyataan Emha.

Di ITS, kata Darmaji, pentas Kanjeng Leo Tidak Percaya sedikit banyak akan mengadopsi seperti apa yang pernah digelar di Jakarta. Biasanya, Cak Nun selalu menjelaskan bait-bait dari apa yang dilantunkan oleh kelompoknya termasuk oleh Leo Kristi. ”Biasanya oleh Cak Nun tiap lagu yang dinyanyikan di panggung kemudian diuraikan secara lugas. Di Jakarta lagu yang dibawakan Leo Kristi, Salam dari Desa, Nyanyian Fajar, dan Sayur Asem Kacang Panjang, juga diuraikan oleh Cak Nun,” katanya.

Darmaji berharap, pentas ini dapat dijadikan sebagai sebuah renungan dan kontemplasi terhadap berbagai macam kejadian yang menimpa bangsa ini. ”Saya yakin lewat syair dan lagu yang akan disampaikan Cak Nun dan Leo Kristi dengan iringan ensambel Kyai Kanjeng-nya akan bisa dinikmati dan mengundang tawa serta kritik bagi kita. Ini yang saya harapkan, sehingga akan terbangun kesadaran dari dalam diri kita masing-masing untuk bisa bnerbuat sesuatu untuk bangsa dan negara,” katanya. (Humas/rin)

Berita Terkait