ITS News

Senin, 17 Juni 2024
31 Agustus 2005, 10:08

Setahun ITS Dapat Rp 1M Lebih dari Dikti

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Dikatakan Direktur Binlitabmas Ditjen Dikti, Prof Dr Moch Munir, ITS merupakan salah satu perguruan tinggi (PT) Indonesia yang tidak bisa dipandang sebelah mata para penelitinya. ”ITS punya banyak peneliti yang lolos seleksi proposal di Dikti. Bisa dibilang ITS sudah level tinggi. Makanya, kita ajak ITS membuat acara ini,” kata Munir saat ditemui di sela-sela penlok Metodologi Penelitian di Gedung Rektorat Selasa (30/8) kemarin .

Dari data Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITS, dalam setahun ITS mendapat dana penelitian Dikti lebih dari Rp 1M. Dikatakan, Manajer HaKI dan Promosi Ipteks LPPM, Dr Ir Suprapto Dipl Eng, dana tersebut didapat dari berbagai program penelitian Dikti. ”Jika ditotal dari program Dikti saja Rp 1M lebih. Belum termasuk penelitian ristek dan program dana lain,” katanya.

Untuk diketahui, Ditbinlitabmas Dikti memiliki beberapa program penelitian yakni, program penelitian dosen muda, hibah bersaing, hibah pasca, hibah pekerti dan RAPID. Dana dari tiap-tiap program berbeda. Dikti sendiri dalam setahun dapat menerima proposal kegiatan berjumlah puluhan ribu. Untuk tahun ini saja, dikti menerima 10.552 proposal yang separuhnya peneliti pemula (dosen muda).

ITS, dikatakan Suprapto, bahkan telah berhasil mendapat dana penelitian terbesar Dikti, yaitu penelitian RAPID (Riset Andalan Perguruan Tinggi dan Industri) yang pendanaannya bisa mencapai Rp 300 juta. ”Ini tahun pertama kita dapat RAPID,” tegas ketua panitia pelaksana penlok ini.

Di ITS sendiri penelitian merupakan sebuah penghargaan khusus. Itulah yang membuat jumlah peneliti di ITS dari tahun ke tahun semakin bertambah. Sedikitnya sudah ada tiga buah hasil penelitian ITS yang mendapat hak paten yakni CDI Stanly, kompor minyak karya Dr Djoko Sungkono, dan alat ukur kuat beton. jumlah itu akan bertambah, pasalnya terdapat puluhan riset yang mengantri hak paten. ”Saat ini, sekitar 28 riset penelitian dosen ITS yang akan diusulkan hak patennya,” pungkas Suprapto.

Penlok Cetak Motivator Penelitian
Prof Dr Suminar S Achmadi, selaku ketua pengarah dari Dikti mengatakan kepada peserta penlok bahwa inti dari kegiatan ini adalah mencetak motivator penelitian di perguruan tinggi sekaligus mensosialisasikan kebijakan dan program penelitian Dikti. ”Kita harap setelah penlok, peserta kembali di perguruan tingginya untuk menularkan ilmu yang didapat,” pesan wanita berkacamata ini.

Selain itu, peserta penlok juga dibekali kemampuan untuk melihat potensi daerah masing-masing dan bekerjasama dengan pemerintah daerah. ”Itu supaya penelitiannya lebih relevan dan bermanfaat untuk masyarakat,” kata Suminar. Penlok yang berlangsung dua hari ini diikuti sedikitnya 50 peserta dari perguruan tinggi negeri dan swasta di sembilan kota Jawa Timur.

Penlok Metodologi Penelitian yang diadakan di ITS ini merupakan salah satu program Dikti untuk mengembangkan potensi peneliti di Indonesia. Meski di Indonesia anggaran nasional untuk penelitian hanya 0,05 persen dari total, lewat penlok ini diharapkan penelitian di Indonesia bisa lebih terencana dan terprogram.

Ditjen Dikti akan melakukan kebijakan desentralisasi kegiatan penelitian di perguruan tinggi (PT). Itu berarti, PT dituntut untuk dapat mengelola secara mandiri proses seleksi, penetapan prioritas, serta evaluasi penelitian. Saat ini sudah ada tujuh PT di Indonesia yang mendapat kewenangan itu antara lain UGM, IPB, ITB, Universitas Airlangga, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanudin dan Universitas Brawijaya. Meski demikian, porsi terbesar penilaian review proposal penelitian masih ada di tangan Dikti. (asa/tov)

Berita Terkait