ITS News

Selasa, 16 Agustus 2022
11 Agustus 2005, 16:08

Lampu Pun Perlu Diaudit

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Tidak hanya keuangan, energi yang digunakan sebuah perusahaan pun kini harus diaudit. Mulai penggunaan AC, lift, hingga lampu yang dipasang di lorong-lorong harus dihitung dengan teliti. Inilah yang disebut dengan audit energi yang bertujuan agar energi listrik yang dipakai dapat didistribusikan secara efektif dan efisien.

Audit dilakukan dengan mencatat daya yang dipakai oleh tiap alat dan dihitung IKE-nya dalam skala persentase. Hasil pengukuran yang telah dilakukan oleh auditor kemudian disesuaikan dengan standar IKE yang ada. "Standart IKE yang digunakan di Indonesia yakni 380 KWH per meter persegi pertahun untuk rumah sakit, 330 untuk pusat belanja, 300 untuk hotel dan apartemen, serta 240 untuk perkantoran," papar Ir Ali Musyafa’ MSc, ketua panitia pelatihan ini. Seperti diketahui bahwa Indonesia menggunakan standart IKE berdasar penelitian yang dilakukan oleh ASEAN-USAID pada tahun 1987.

Jika ternyata didapati IKE bangunan tersebut melebihi standar yang ada, akan dicari bagian mana saja yang penggunaannya dapat dihemat. Hal ini disebut Peluang Penghematan Energi (PHE). "Peluang penghematan energi dapat dilakukan dengan usaha-usaha antara lain mengurangi sekecil mungkin penggunaan energi, mengurangi kilowatt dan jam operasi, memperbaiki kinerja peralatan serta penggunaan sumber energi yang murah," ujar M Yulianto ST, salah satu pembicara yang juga dosen Teknik Fisika ITS ini. Ia menambahkan bahwa pemilihan alat elektronik bahkan lampu pun dapat mempengaruhi hasil audit dan nilai IKE.

Yulianto kemudian mengajak para peserta menghitung penggunaan energi listrik yang dipakai oleh lampu menggunakan luxmeter. "Kita coba dengan lampu XL ini, tercatat menggunakan sembilan watt, padahal tertulis di dus 20 watt. Disini kita harus cermat memilih jenis lampu yang digunakan, XL memang memiliki keuntungan dengan cahayanya yang terang dan irit, tapi gas di dalamnya gampang lepas jika pengelasannya kurang sempurna. Akibatnya lampu pun tidak dapat digunakan lagi," terang Yulianto. Ia juga membandingkan dengan lampu neon dan lampu pijar. "Wah..kalo lampu pijar ini memang dayanya rendah, tapi butuh berapa banyak lampu ya untuk menyamai terang lampu XL ini? lima kalinya mungkin," kelakarnya yang disambut tawa para peserta.

Pria berkemeja biru ini pun mengingatkan, selain pemilihan jenis lampu, tata letak lampu juga sangat berpengaruh dalam hasil audit. Semakin sedikit lampu yang digunakan dengan hasil penerangan ruangan yang maksimal, semakin kecil prosentase IKE yang dihasilkan dari sektor pencahayaan. Ia mencontohkan peletakan lampu di supermarket seperti Alfa dan Giant yang diatur hanya pada lorong saja, dan bukannya diatas rak yang kurang efektif sebagai penerangan bagi para konsumen.

Pelatihan yang diadakan di perpustakaan ITS lantai 2 ini diikuti oleh puluhan peserta dari hotel, rumah sakit, pusat perbelanjaan, industri dan beberapa perguruan tinggi di Surabaya dan sekitarnya.(ftr/rin)

Berita Terkait