ITS News

Sabtu, 13 Agustus 2022
09 Juni 2005, 13:06

Personality Maju Pesat Semenjak Kuliah di ITS

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Program studi D3 Statistika ITS layaknya boleh berbangga hati. Pasalnya dua anak didiknya berhasil meraih berturut-turut juara satu dan dua dalam kompetisi mahasiswa berprestasi 2005 se-ITS. Salah satunya adalah Aurora Rosmanicke Radiahapsari. Mahasiswi angkatan 2002 ini meraih juara dua mawapres tahun ini.

Aurora begitu ia biasa dipanggil, memiliki pembawaan yang kalem. Tapi siapa sangka jika cewek berjilbab dan berparas ayu ini menyimpan segudang pengalaman dan pemikiran menarik. Tengok saja dalam karya ilmiah berkaitan dengan lomba mawapres, ia mengambil sebuah judul menarik dengan mengusung isu BBM yang masih hangat.

Hasil karyanya itu berjudul Dampak Kenaikan BBM terhadap Penghasilan Supir Bemo studi kasus angkutan umum lyn O. Dalam karyanya ini, cewek kelahiran Nganjuk 22 Maret 1984 ini, membahas mengenai betapa berimbasnya kebijakan kenaikan BBM terhadap kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Didukung terjun langsung mengambil data primer di lapangan dengan 60 orang narasumber sopir Lyn O, ia mendapatkan kenyataan lain. Bahwa disamping berimbas ke kehidupan ekonomi, kenaikan BBM juga berimbas kepada psikologi masyarakat. ”Saat melakukan wawancara di lapangan, kebanyakan opini mereka (sopir bemo, red) lebih emosional,” ungkap Aurora

Dikatakannya, para sopir angkutan kota itu sudah sampai pada taraf kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Mengenai dana pengentasan kemiskinan yang tidak sampai juga sering kali mereka keluhkan. ”Tapi pada akhirnya mereka hanya berucap pasrah dengan keadaan ini,” katanya.

Terjun di lapangan, berbaur dengan masyarakat memang sudah menjadi kesenangan tersendiri bagi cewek yang tergolong seorang organisatoris dan aktivis ini. Diakuinya, dengan ngobrol dan mendengar keluh kesah masyarakat kelas bawah ia menjadi lebih dapat bersyukur. Dari semua itu, ia dapat mengambil kesimpulan bahwa kondisi sosial di Indonesia saat ini memang tidak memungkinkan untuk golongan bawah melakukan mobilisasi vertikal, pindah status ekonomi yang lebih mapan. ”Miskin itu tidak berarti malas, bukan.” kata pemilik IPK 3,26 ini.

Selain karya ilmiah yang menarik, Putri sulung dari tiga bersaudara pasangan guru, Suwono dan Rusmiati ini juga memiliki segudang pengalaman non akademis. Dalam hal organisasi misalnya. Di jurusan, ia telah menjabat sekretaris Himpunan Mahasiswa Statistik (Himasta) periode 2003-2004, dan Kepala Departemen Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) Himasta periode 2004-2005.

Sementara itu untuk organisasi ekstra kampus, Aurora juga tercatat sebagai aktivis PMII sejak tahun 2004. Jenjang pelatihan kepemimpinan dan manajerial bertahap di ITS pun juga dijalaninya sampai pada jenjang pelatihan pemandu LKMM-TM. Selain kegiatannya yang seabrek itu, ia juga sesekali menyempatkan diri untuk bekerja freelance sebagai surveyor dan entryor.

Memang prestasi dalam berorganisasi dan menjadi seorang aktivis dikatakan seorang Aurora lebih membanggakan daripada penghargaan semacam mawapres. Hal itu karena dengan aktif di organisasi, ia dapat lebih mencari jati diri. ”Sebenarnya saya tidak pintar dalam arti luas. Tapi saya selalu yakin Allah menciptakan saya ke dunia tidak tanpa bekal apa-apa. Dengan menjadi aktifis saya berharap bisa menemukan kelebihan saya,” jelas cewek yang sudah mulai belajar mandiri jauh dari orang tua semenjak SMU ini.

Di sisi lain, peraih IPS tertinggi FMIPA tahun 2002 ini juga menyadari betul bahwa saat ini dunia kerja sedang mencari orang-orang yang unggul dan berbeda. Inilah yang juga memotivasinya untuk berhasil di bidang akademis dan organisasi sekaligus. Baginya tak berlaku ungkapan aktivis akademik jeblok.

Dan ia mengakui, sejak ia masuk ITS, ia merasakan perkembangan yang pesat dalam hal personality. ”ITS benar-benar jadi sebuah ladang untuk belajar,” seru cewek yang bercita-cita menjadi pekerja kantoran di bidang perbankan ini.

Mengenai cara belajarnya sendiri, dikatakan lulusan SMUN 2 kediri tidak jauh beda dengan kebanyakan mahasiswa ITS yang lain. ”Saya sering kali tidak belajar, lebih mengandalkan SKS (Sistem Kebut Semalam, red),” kata penghobi membaca buku-buku tentang personality ini lirih. (asa/tov)

Berita Terkait