ITS News

Senin, 08 Agustus 2022
06 Juni 2005, 09:06

Lubna : Haram Jawab Angka

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Proses rekruitmen pekerjaan biasanya melewati beberapa tahapan. Setelah lolos tes tulis dan psikotes, calon pegawai akan dihadapkan pada wawancara kerja. Dari wawancara inilah yang nantinya menentukan seseorang dapat diterima di perusahaan itu atau tidak. Sayangnya, banyak pelamar kerja yang tidak mengetahui dan mengerti trik-trik agar dapat lolos. Alasan ini yang mendasari Student Advisory Center (SAC) ITS bekerjasama dengan Mitra Morfosa mengadakan Integrated Job Hunting. Selama dua hari, terhitung sejak Sabtu (4/6) di Gedung SAC ITS, puluhan peserta dibekali dengan kiat-kiat menembus lowongan kerja, dari cara membuat surat lamaran kerja yang efektif hingga kiat sukses wawancara kerja.

Dalam salah satu sesinya, dibahas tentang kiat-kiat lolos wawancara kerja. Materi ini dikupas oleh Dra Lubna Algadrie Dipl TEFL MA, Direktur UPT Bahasa ITS. Menurut wanita dengan segudang pengalaman ini, hal paling berpengaruh dalam tes adalah interview, bukan tes tulis. “Soal tidak bisa dipercaya, karena bisa dijiplak atau bisa bocor, sedangkan wawancara tidak bisa dimanipulasi,” kata Lubna menjelaskan pentingnya interview. Orang akan dapat melihat langsung seperti apa calon pegawainya. Oleh karena itu, seorang pelamar bisa lega jika sudah melewati tahapan interview.

Lubna pun memberi tips-tips agar sukses dalam wawancara. Pertama yang ditegaskan wanita paruh baya ini adalah mengenai sikap dalam interview. “Be natural, nggak usah nunduk seperti orang Jawa,” ungkap Lubna yang banyak menggunakan bahasa Inggris dalam menyampaikan materi ini. Jadi, mereka harus bersikap biasa saja. Namun, yang harus diperhatikan, selain percaya diri, adalah kesopanan. Tentang penampilan, dosen ITS ini menambahkan bahwa pakaian yang dikenakan tidak boleh lebih dari tiga warna. Bagi perempuan sebaiknya memakai rok panjang. Ini lebih sopan dan rapi dilihat. Untuk yang memakai jilbab, Lubna berpesan agar tidak memakai celana panjang. “Orang sudah tahu, busana muslim nggak ada yang ketat,” katanya.

Hal paling penting, Lubna menyoroti sebuah pertanyaan yang sering diajukan yaitu berapa besar gaji yang diinginkan. “Saya katakan haram menjawab angka, “ tegasnya. Ia pun langsung melanjutkan, jangan sampai pelamar menyebutkan nominal uang. Seharusnya pelamar justru harus bertanya balik kepada si pewawancara. “Kalau di perusahaan Anda, pekerja baru seperti saya standarnya berapa?” ujarnya mamberikan contoh jawaban. (th@/tov)

Berita Terkait