ITS News

Jumat, 19 Agustus 2022
26 Mei 2005, 11:05

Seorang Perintis Teknik Lingkungan Itu Telah Tiada

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kepergian seseorang seringkali mengingatkan kita pada hal-hal apa yang telah diperbuat atau dilakukan. Itulah yang mengemuka ketika civitas akademika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melepas mendiang Ir Jusak Budiwidiadi M Eng Sc, dosen Jurusan Teknik Lingkungan yang meninggal karena sakit, Kamis, 19 Mei 2005 lalu.

Saat pelepasan untuk penghormat terakhir, Senin (23/5) siang di Plasa Dr. Angka Kampus ITS, ratusan orang mengikuti acara persemayaman sebelum jenazah diberangkatkan ke pemakaman umum Kembang Kuning, Surabaya. Acara yang dipimpin oleh Rektor ITS Prof Dr Ir Mohammad Nuh DEA, berlangsung khidmat.

Dalam sambutannya, Nuh mengingatkan kepada mereka yang masih hidup untuk bisa berbuat sesuatu sebagai bekal untuk menghadap sang pencipta. ”Pak Wid. Begitu biasa saya memangil, telah pergi menghadap Tuhan, beliau telah banyak memberikan ilmu dan sumbangan pemikirannya untuk ITS, karena itu kita yang masih hidup saat ini haruslah mulai berpikir dan bertanya-tanya, apakah kita bisa memberikan sesuatu kepada ITS sebagai bekal kita menghadap Tuhan, seperti yang telah dilakukan oleh mendiang” katanya.

Dikatakan rektor, Jusak Budiwidiadi merupakan salah seorang dosen yang telah merintis pendirian Jurusan Teknik Lingkungan, ditangannyalah Program Studi Teknik Penyehatan kemudian berkembang menjadi Jurusan Teknik Lingkungan saat ini. ”Jasa dan pengabdian Pak Wid sedemikian besar kepada ITS. Ilmu dan pemikirannya telah disumbangkan demi untuk kemajuan ITS dan bangsa,” katanya.

Mendiang Widiadi, demikian ayah tiga anak ini biasa dipanggil oleh kolega dan para mahasiswanya memang tercatat sebagai salah seorang perintis Jurusan Teknik Lingkungan yang awalnya masih berupa Program Studi Teknik Penyehatan berada di Jurusan Teknik Sipil. Meski ia berlatar belakang Teknik Sipil dengan disiplin ilmu Perhubungan, tapi kepeduliannya membesarkan Program Studi Teknik Penyehatan bersama-sama Ir Anggraheni M Sc tidak perlu diragukan lagi.

Itu sebabnya ketika Widiadi berkesempatan melanjutkan program masternya di University of New South Wales Australia dari tahun 1978 hingga 1980, ia mengambil bidang Teknik Penyehatan. Untuk itulah ia diawal berdirinya program studi itu dipercaya untuk menjadi wakil ketua Program Studi Teknik Penyehatan, kemudian pada tahun 1987 hingga 1990 menjadi ketua program studinya.

Menurut Ir Agus Slamet M.Sc, Ketua Jurusan Teknik Lingkungan, Widiadi merupakan sosok yang perlu diteladani dalam hal disiplin dalam kerja dan teguh dalam memegang peraturan. ”Sungguh kami sangat berkesan dengan beliau, selain teguh dan disiplin Pak Wid juga sangat teliti didalam membimbing para mahasiswanya. Pak Wid mungkin satu-satunya dosen di Teknik Lingkungan yang hafal satu persatu dengan mahasiswa termasuk dengan para orang tuanya,” katanya.

Dikatakan Agus, saking cintanya kepada mahasiswa dan memiliki loyalitas yang tinggi terhadap ITS, ketika sakit sekali pun ia sempat mengantarkan mahasiswa bimbingannya untuk maju dalam sidang tesis. ”Saya ingat betul waktu itu Pak Wid berada di atas kursi rodanya mengantarkan mahasiswa bimbingannya maju dalam sidang tesis,” kata Agus yang telah menjadi kawan sejawat sejak 18 tahun lalu.

Semasa hidupnya ia termasuk orang yang paling sederhana, mudah diajak diskusi dan berbicara serta tidak sulit untuk mendapatkan informasi ilmu darinya. Karena itu banyak mahasiswa bimbingannya amat senang jika mendapatkan bimbingan Pak Wid.

Dalam salah satu emailnya seorang mantan mahasiswa Pak Wid yang kini telah menjadi dosen di Teknik Lingkungan, Ali Masduqi menuliskan, kalau Pak Wid-lah dosen pertama yang mengenalkan konsep-konsep pengelolaan lingkungan melalui mata kuliah Pengetahuan Lingkungan di semester satu, kemudian pada semester lima, kembali Pak Wid mengajar bagaimana menciptakan lingkungan yang sehat melalui mata kuliah Sanitasi Lingkungan. ”Pada semester itu pula saya dibimbing Pak Widiadi dalam merencanakan sistem sewerage dalam Tugas SPAB), sedang pada semester enam, kembali Pak Widiadi mengajari saya mengenal konsep pengolahan air limbah dalam mata kuliah Pengolahan Air Buangan Domestik,” tulis Ali Masduqi.

Ali juga menulis, setelah dirinya masuk menjadi dosen Teknik Lingkungan, berkali-kali ia dibimbing Pak Wid, setidaknya dalam dua kali penelitian dan satu kali penulisan buku ajar. ”Banyak masukan yang diberikan dan banyak sekali saya belajar dari beliau. Untuk urusan tugas sehari-hari sebagai dosen, saya banyak bertanya dan belajar pada Pak Widiadi sebagai dosen senior yang banyak pengalaman.” (Humas/rin)

Berita Terkait