ITS News

Rabu, 17 Agustus 2022
15 Mei 2005, 16:05

Kiprah Tim-Tim Surabaya di Arena Kontes Robot Indonesia

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

ASKAF-i ITS Langsung Hajar Lawan Perdananya
Mulai kemarin, digelar Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) di kampus Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Surabaya mengirimkan 13 robot, yang berasal dari empat perguruan tinggi. Bagaimana kiprah robot-robot Surabaya di perhelatan itu?

KAMPUS UI di Depok, sejak kemarin lebih meriah dari biasanya. Sejak masuk ke pintu gerbang kampus hingga ke gedung Balairung, tampak semarak dengan spanduk maupun umbul-umbul yang menandakan adanya hajatan besar. Sejak kemarin hingga malam ini, UI memang menjadi tuan rumah Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2005.

Ajang robot terbesar di Indonesia ini pagi kemarin sekitar pukul 09.00, dibuka oleh Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Bambang Sudibyo. Hadir juga dalam acara itu Dirjen Dikti Prof Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro, dan rektor-rektor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. "Melihat robot-robot mahasiswa Indonesia, saya optimis, bangsa kita bisa segera mengejar ketertinggalannya dari bangsa lain," kata Bambang Sudibyo, dalam sambutannya.

Upacara pembukaannya juga berlangsung meriah. Diawali dengan tari robot yang dibawakan oleh unit kegiatan mahasiswa (UKM) tari UI. Tarian yang dibawakan 5 penari ini melakukan gerakan patah-patah, seperti layaknya robot.

Ada 62 tim yang ambil bagian dalam kontes ini. Terdiri dari 32 tim di ajang KRI, dan 30 tim di KRCI. Untuk KRI, mengambil tema: Menggapai Puncak Borobudur Nyalakan Api Perdamaian. Tema ini diadopsi dari tema besar yang dipilih penyelenggara Robocon di Beijing, Climb on to the Great Wall. Pemenang KRI nanti akan mewakili Indonesia di ABU Robocon di Beijing, 27 Agustus 2005.

Di KRI, setiap tim harus membuat robot otomatis dan robot manual. Robot-robot ini akan membawa bola api. Bola-bola api ini harus dimasukkan ke stupa-stupa agar menyala.

Untuk KRCI, aturannya berbeda dengan KRI. Robot harus berhasil mencari dan memadamkan api lilin yang diletakkan di salah satu sudut ruang berpetak.

Tidak berlebihan kalau Surabaya dikatakan baromater robot di Indonesia. Dalam babak penyisihan kemarin, tim-tim Surabaya berhasil mengungguli lawan-lawannya.

Tim ASKAF-i dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS misalnya, langsung menggebuk lawan perdananya ETT_NIC dari Politeknik Negeri Semarang. Tim ASKAF-i yang terdiri dari Adnan Rahmat Anom Besani, Sigit Hardiyono, Kristian Ari, Arif Zuantono, dan Fuad Hasan ini menang secara telak.

Enam detik pertama, semua canister (keranjang stupa) luar yang berjumlah empat buah pun langsung dipenuhi dengan bola api ASKAF-i. Mereka berhasil membentuk diagonal, salah satu poin plus penilaian. Robot manual mereka pun menghujani areal holly fire dengan bola. Dari 19 bola api, semuanya berhasil dimasukkan. Dalam waktu satu menit tujuh belas detik, tim juri menyatakan ASKAF-i menang mutlak, atau istilahnya "Climb on The Great Wall."

Rektor ITS Prof. Dr. Mohammad Nuh DEA, Pembantu Rektor III Dr. Ir. Achmad Jazidie MEng.,dan Direktur PENS Dr. Ir. Titon Dutono yang menyaksikan kemenangan ASKAF-i langsung bersorak kegirangan. "Wah, Pak Nuh sampai lupa kalau jadi rektor," celetuk Humas ITS Sukemi, melihat Nuh berjingkak-jingkrak kegirangan.

Sebanyak 200 suporter ITS juga tak kalah girang. Suara mereka seakan mengalahkan 2.500 penonton yang memadati Balairung, tempat arena dihelat.

Tim-tim lain dari Surabaya juga memperlihakan kekokohannya. Sampai berita ini diturunkan, belum semua tim Surabaya turun.

Sementara di arena KRCI untuk kategori robot beroda, dari 13 tim, hanya dua tim yang berhasil memadamkan api lilin. Yakni Marisa dari UI dan robot Bratasena dari Polban (Politeknik Negeri Bandung).

Sedangkan robot Tread Stone dari Politeknik Perkapalan Surabaya hanya bisa mendeteksi lilin, tanpa bisa memadamkannya. "Peserta KRCI banyak yang demam panggung. Ini mempengaruhi konsentrasi. Selain itu, lampu blitz kamera mempengaruhi sensor robot," ujar Muljowidodo, Ketua Tim Juri KRCI.(rina rahmawati/tomy cahyo)

Berita Terkait