ITS News

Kamis, 11 Agustus 2022
15 April 2005, 10:04

Eddie: PLN Pernah Tertimpa Tsunami

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kunjungan Direktur Umum PT PLN, Ir Eddie Widiono Msc MM ke ITS, ternyata membawa misi ganda. Selain untuk menandatangani kesepakatan kerjasama antara PT PLN (Persero) dengan ITS, Beliau juga memberikan kuliah tamu kepada mahasiswa ITS, Kamis (14/4) Gedung Rektorat. Acara yang dipadati sekitar 250 orang ini mengangkat tema mengenai PLN dan ketenagalistrikan Indonesia.

Diungkapkan Eddie, terjadi ketimpangan pendanaan di berbagai sektor karena pemerintah masih memakai sistem dana terpusat. Terlebih lagi, dulu PLN merupakan organisasi terpusat yang memegang monopoli. Untuk bisa mengikuti arus pergerakan ketimpangan, PLN melakukan desentralisasi. Salah satunya metodenya adalah EBITDA (Earning before Interest taxes and depreciation). Intinya, adanya anggapan perusahaan listrik itu padat modal.

Eddie lalu menceritakan kondisi PLN sebelum krisis. “Penjualan mencapai 11 trilyun dan saat itu laba yang diperoleh 1.12 T,” ungkapnya. Namun, saat badai krisis PLN mengalami kerugian yang tinggi. Penyebabnya adalah hancurnya nilai rupiah. Hingga tahun 1998, kenaikan beban listrik masih terlindung system tarif. “Pernah dolar naik sampai 50 persen, sehingga tarif listrik menjadi tiga kali lipat,” kata Eddie lagi.

Untuk itu, ada beberapa program utama yang akan dilakukan PLN ke depan. Yaitu renegosiasi swasta, rekturusasi hutang, rekturisasi coorporate dan revaluasi asing. Lebih dalam, Eddie memberikan komentarnya. Banyak orang menggambarkan PLN akan bangkrut. Padahal tahun 2001, PLN meraup laba tapi hanya dihitung sebagai asset karena masih ada hutang. “Sejauh tahun 2001 membaik kondisinya dan saya bangga tahun 2004 bisa memetik laba,” ujarnya.

Lebih lanjut lagi, Eddie mengungkapkan tidak hanya Aceh saja yang terkena Tsunami, tetapi PLN juga. Terjadinya lebih awal seminggu dari tsunami Aceh. Yang dimaksud tsunami disini adalah adanya perubahan undang-undang tentang ketenagalistrikan. “UU merupakan suatu yang riskan, jika dirubah maka berubah dasar juga,” katanya menjelaskan. Lebih tepatnya, UU 15 tahun 1985 diubah menjadi UU 20 tahun 2002. Setelah tsunami PLN, masih ada gempa susulan. “Artinya, harus bangun pondasi lagi,” Eddie menambahkan.

Terakhir, Eddie menawarkan kepada mahasiswa ITS untuk magang di PLN. Harapannya, akan ditemukannya penemuan-penemuan baru yang dapat menghemat bahan bakar listrik. (th@/rin)

Berita Terkait