ITS News

Minggu, 07 Agustus 2022
23 Maret 2005, 14:03

PWK Undang Profesor dari Universitas Anhalt Jerman

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Ir Joni Hermana MScEs PhD selaku Pembantu Dekan I FTSP dan Ir Heru Purwadio MSP selaku sekretaris Prodi PWK menyambutnya dengan hangat. Dalam sambutannya, Joni mengatakan bahwa ada kemungkinan akan didirikannya Program studi yang ada relasinya khusus dengan Tsunami di FTSP ITS. Sedangkan Heru menjelaskan, "Kuliah tamu ini diadakan atas kerjasama antara Prodi PWK dengan LPPM ITS kaitannya dengan Sistem Perencanaan, Penyusunan Program dan Penganggaran (SP4)". Lebih jauh tentang SP4, Putu Gede Ariestita MSP selaku dosen yang menjadi panitia kuliah tamu ini mengatakan, "Prodi PWK ini Jurusan baru, karena itu banyak diberi hibah. Salah satunya adalah SP4 dari Dikti. pemanfaatan SP4 ini salah satunya untuk kuliah tamu seperti ini".

Buhmann memulai kuliah tamunya dengan memperkenalkan jurusan dan institusinya, Master of Landscape Architecture (MLA) Anhalt University. Ada dua hal penting dalam Lanscape architecture, yaitu planning dan design. Planning berkaitan erat dengan GIS, database, Kartografi, dan presentasi sedangkan Design dengan Computer Aided Design (CAD), model, dan visualisasi.

Professor dari Jerman ini menunjukan kepada undangan dan ratusan peserta kuliah tamu proyek dia yang sudah dilakukan di Kota Munich. Dia menjelaskan mengapa kota munich ini menarik banyak investor, "Banyak Perusahaan High Tech, software, Chip mendirikan lab mereka di munich. Suasana yang indah dilengkapi pemandangan gunung Alpen membuat munich sangat spesial. Tanah-tanah lapang yang kosong di Jerman kami buat menjedi taman dahulu sehingga muncul struktur yang indah. Hal ini yang menarik banyak investor". Proyeknya bernama Campeon yang akan menyediakan tempat bagi para perusahaan besar tersebut.

Lanscape architecture adalah salah satu profesi yang bisa mentukan kebijakan dalam pengaturan kota di Jerman. Karena itu struktur kota di munich telah ditata rapih sehingga tidak merusak pemandangan gunung Alpin. Bangunan dan proyeknya yang dijelaskan tadi juga disesuaikan dengan pohon disana. Hasilnya Munich menjadi kota yang indah dan hijau. Dia menambahkan, "Suatu proyek yang berkaitan dengan alam harus bisa meminimalisasikan akibat-akibat yang negatif. Jika tidak bisa harus ada kompensasinya".

Masuk pada tema GIS, dia menjelaskan reklamasi bekas tambang batu bara coklat di Jerman. Disini dia membuat visualsiasi tiga dimensi (3D) berdasarkan GIS. Dia mensimulasikan visual jika tambang tersebut dijadikan danau, lingkungan sekitarnya akan normal kembali. Dia membuat proyeknya ini dirangkum dalam sebuah DVD yang berisi sejarah tambang, simulasi rekalamsi, dan GIS 3d tersebut.

Untuk simulasi visual, dia menunjukan beberapa syarat. "Visualisasi itu harus representatif, Akurat, Kridibel, Komprehensif, dan bebas bias. selain syarat simualsi diatas, simulasi juga harus nyata benar dan No sale Effect," jelasnya. Menurutnya, jika dalam simulasi ditambah sale effect, kita berprofesi sebagai Public Relation bukan sebagai Teknisi. Adapun tentang Tsunami, Pria berjanggut tebal ini hanya menunjukan beberapa sumber-sumber GIS yang berkaitan di Internet.

Karena memang spesialisasinya di GIS, saat diskusi dia mengakui bahwa informasi atau peringatan saja tidak cukup untuk menghadapi Tsunami. Dia menggambarkan, "Dari pada saya menemukan jalan buntu saat di beri informasi ada Tsunami. Lebih baik ada desain kota yang cukup kuat. Mungkin bangunan tinggi dan kuat bisa salah satu jalan keluar menghadapi tsunami". Nanang, salah satu Dosen PWK menambahkan, "Di Indonesia yang tidak banyak uang ini mungkin bisa dibangun taman mangrove disekitar pantai dan perumahan dan bangunan lain dillindungai oleh taman tersebut". (mac/bch)

Berita Terkait