ITS News

Senin, 27 Juni 2022
15 Maret 2005, 12:03

Yohannes : "Saya Bukan Anti Mal&#8221

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Cum laude merupakan impian semua mahasiswa. Hal itu juga diinginkan oleh Yohannes Wijoyo sejak awal kuliahnya. "lulus dengan cumlaude adalah impian saya sejak semester satu, dan lulus dalam tiga setengah tahun adalah keinginana saya mulai dari semester dua," papar Yohannes. Dengan semua ‘perjuangan’ yang telah dilaluinya, semua mimpi dan keinginanan mahasiswa Kimia MIPA angkatan 2000 ini dapat menjadi kenyataan.

Tak ada cara khusus dalam proses studi pemuda kelahiran Surabaya 21 Januari 1982 ini, dia juga mengaku tetap menikmati masa mudanya dengan mengencani gadis pilihannya. "Belajar saat di kelas selalu saya usahakan dengan maksimal. Saya juga harus membagi waktu dengan jadwal les privat yang saya berikan, jadi sedikit waktu untuk belajar dirumah," kata Yohannes. Membentuk kelompok belajar pun tidak dilakukannya dengan alasan tidak ada waktu. Alasan itu jugalah yang memaksanya untuk tidak mengikuti organisasi di kampus. Dia pernah sekali menjadi panitia seminar nasional kimia V, "Selain itu nggak ada," tambahnya lagi.

Dengan IPK 3,80 seluruh nilai mata kuliahnya dipenuhi oleh nilai A,AB,dan B. Tapi setelah meneliti transkrip nilai yang ditunjukkannya, terdapat satu nilai yang terlihat "nyeleneh" diantara nilai-nilai fantastisnya itu. Sebuah nilai C untuk praktikum kimia organik II nya. Ketika ditanya alasannya, dia pun tertawa sambil mengatakan bahwa hal itu menunjukkan kalau dia tetaplah manusia biasa yang melakukan kesalahan, tak ada gading yang tak retak tambahnya. Keinginan untuk memperbaikinya pun tidak ada sebab akan memperpanjang masa kuliahnya.

Tugas akhirnya yang mendapat nilai A dengan judul ‘Sintesis Zeolit Pada Permukaan Paduan Alumunium dengan Variasi Kondisi Temperatur Sintesis’. Dana penelitian sebesar kurang lebih empat juta rupiah didapatnya dari LEMLIT (Lembaga penelitian) ITS . Alumni SMU kristen petra 1 surabaya ini juga mempresentasikan Tugas Akhirnya pada Seminar Nasional Kimia V. Dia pun sangat mengagumi pembimbing tugas akhirnya, Djoko Hartanto, M.Si, "Orangnya supel sama mahasiswa," kata Yohannes. Beliau juga yang membantunya untuk menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun.

Berbagai pengalaman selama mengerjakan tugas akhir diceritakannya dengan tersenyum mengenang. Mulai dari pusingnya ‘dikejar deadline’ sampai tidur di laboratorium. Saat semua ide terasa sulit keluar, rasa suntuk pun datang. Untuk mengatasinya, si bungsu dari dua bersaudara ini pasti akan refreshing dulu. "Ya tidur ya jalan-jalan, saya ini bukan anti mall lho," katanya sambil tersenyum.

Peraih IPS tertinggi 2003/2004 ini mengaku biasa-biasa saja saat sekolah dulu. Prestasi akademisnya naik turun, namun sebuah prestasi yang sangat membanggakannya adalah menjadi peserta pembinaan IChO, Olimpiade Kimia Internasional 2000 saat SMU. Kesempatan untuk bertanding di Denmark mewakili Indonesia saat itu dilepasnya karena bersamaan dengan jadwal UMPTN. Walau akhirnya dia menjadi mahasiswa ITS melalui jalur PMDK.

Setelah wisuda, pemilik dahi yang cukup lebar ini berkeinginana untuk melanjutkan studi S2 nya di luar negri. Sebenarnya akan mudah baginya untuk langsung menempuh strata doktor mengingat gelar cumlaude yang telah disandangnya. Namun dia ingat akan pesan dosen pembimbingnya untuk tidak mementingkan "prestise"nya menjadi doktor di usia muda, tapi lebih kepada apa yang akan dilakukan dengan gelar doktornya nanti. Tidak menutup kemungkinan juga kalau dia akan mengambil kerja terlebih dahulu.

Dengan penuh rasa syukur Yohannes menyatakan bahwa semua gelar cumlaude, Mawapres utama III 2003 tingkat institut dan Mawapres utama II 2003 tingkat fakultas ini dipersembahkannya untuk Tuhan YME, Orang tua, dan dirinya sendiri. Sebuah hal berharga yang didapatnya dengan kuliah adalah kemampuan logika seorang mahasiswa yang akan membantunya dalam menjalani sekolah kehidupan setelah menjadi sarjana science. (m1/Lin)

Berita Terkait