ITS News

Senin, 17 Juni 2024
15 Maret 2005, 12:03

WS Rendra pertanyakan kedaulatan rakyat

Oleh : Dadang ITS | | Source : -

Kedaulatan ada di tangan rakyat, begitulah penggalan pasal 1 ayat 2 UUD 1945 Republik Indonesia. Perwujudan pasal tersebut juga telah diupayakan pemerintah dengan diadakannya pemilihan umum 2004 kemarin secara langsung. Rakyat yang dahulunya hanya memilih partai untuk mewakili suaranya, kini dapat memilih langsung siapa yang akan memimpin bangsanya.

Namun bagi WS Rendra, pelaksanaan pemilu 2004 tersebut belum sepenuhnya mewakili kedaulatan rakyat. "Calon-calon presiden yang menjadi pilihan rakyat, belum tentu sukses menjadi presiden jika tidak mendapat dukungan dari partai politik," tegas Rendra dalam acara Refleksi Akhir Tahun BEM ITS Jumat (31/12) tadi di kantin pusat. Sehingga menurutnya, kedaulatan rakyat masih tetap dicampuri oleh kepentingan-kepentingan politik.

Lebih lanjut, penyair yang dijuluki si Burung Merak ini mengatakan bahwa rakyat juga belum mendapatkan sepenuhnya kedaulatan hukum. Pelanggaran terhadap kemanusian dan keadilan yang tercantum dalam ideologi negara Pancasila menurutnya, tidak mendapat sanksi hukum. " Malah yang memperjuangkan Pancasila dibunuh dan dikasih racun seperti Marsinah dan Munir. Marsinah dulu kan memperjuangkan agar peraturan menteri dilaksanakan di perusahaannya, tapi oleh bosnya malah dibunuh. Kasusnya pun sampai sekarang nggak selesai," papar Rendra berapi-api.

Satu kedaulatan lagi yang juga disinggung penyair kelahiran 7 November 1935 di kota Solo ini adalah kedaulatan ekonomi rakyat. Dipaparkannya, kalangan elite politik dan konglomerat lebih diperhatikan dan dilindungi oleh pemerintah ketimbang pembangunan infrastruktur di kawasan pedesaan dan pelosok.

"Kondisi ini membutuhkan peran serta aktif kita semua. Aturan main harus segera diubah," pesan penulis Kumpulan Sajak Orang-orang Tercinta ini. Hal tersebut juga menjadi PR mahasiswa yang memiliki peran sebagai agent of change untuk segera menyadari dan mengatasinya. "Tentunya sesuai kadar intelektual yang dimiliki," ujarnya.

Dalam kegiatan yang juga diisi bedah buku ‘Sehatlah Jiwanya Sehatlah Badannya Untuk Indonesia Raya’ ini, dr Ario Djatmoko sebagai pengarang berpesan agar mahasiswa selalu menjunjung tinggi nilai kebenaran dan keadilan. "Setiap perubahan yang kita lakukan adalah perubahan berpikir. Maka introspeksi peran anda," terang dosen Unair ini kepada puluhan mahasiswa yang memadati bedah bukunya.

Di akhir acara, WS Rendra membacakan sebuah sajak berjudul Sajak tentang Aceh untuk korban-korban bencana tsunami di Nangroe Aceh Darussalam. Bencana yang disebutnya sebagai kemenangan daulat alam atas daulat manusia ini merupakan bencana yang menjadi tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. (ftr/tov)

Berita Terkait